Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sejumlah Menteri, BUMN, Korporasi, Dan Tokoh Nasional Peroleh Anugerah
JK Tokoh Utama Indonesia Maju
Selasa, 9 April 2019 11:02 WIB
Sebelumnya
Sementara Indonesia mengandalkan sumber daya alam (SDA) yang jumlahnya kian menipis.
Di tengah pidato JK, sekitar pukul 19.56 WIB, Ridwan Kamil masuk ke ruangan. Dia datang terlambat. “Wah, hadiahnya sudah saya kasih yang lain,” ujar JK kepada Ridwan.
“Maaf Pak, terlambat tadi naik kereta,” jawab Kang Emil, sapaan akrab Ridwan. “Naik kereta karena banjir di Bandung ya?” goda JK. Sontak hadirin, termasuk Emil tertawa. JK melanjutkan pidatonya.
Dia menyoroti soal ketakutan dari aparat birokrasi untuk mengambil sebuah langkah atau kebijakan. JK bercerita, pekan lalu, dia mengunjungi Pelabuhan Batam.
Baca juga : Kemenperin : Impor Bahan Baku Industri Perhiasan Jangan Kena Bea Masuk
Kondisi pelabuhan itu, mirip dengan pelabuhan di Singapura tahun 60-an. “Ada kontainer tapi crane tetap tunggal. Crane aja nggak ada, industri mau dibangun gimana caranya?” tutur JK.
“Saya pun minta Bu Rini (Menteri BUMN) untuk membeli crane. Kita ingin pelabuhan Batam dimodernisasi, kita ingin fasilitasi ini,” imbuh Wapres.
Namun, Rini Soemarno menolak. Dia baru berani mengambil langkah itu jika ada Keputusan Presiden (Keppres). “Iya, bu Rini bilang, mintain Keppres sama Pak Presiden,” ujar JK.
Rupanya, ada ketakutan bahwa langkah pembelian crane itu akan berujung pada masalah hukum seperti yang menimpa eks Dirut Pelindo II, RJ Lino, akhir 2015. KPK menduga Lino melakukan tindak pidana korupsi dalam pengadaan quay container crane (QCC) pada tahun 2010.
Baca juga : Eks Menteri Jokowi, Senator & Tokoh Nasional Turun Lagi
Menteri Rini, yang hadir dalam acara itu tiba-tiba nyeletuk. “Iya pak, takut di-Lino-kan,” selorohnya disambut tawa hadirin. Menurut JK, hal semacam ini menjadi dilema. Di satu sisi, banyak korupsi. Karena itu dibentuklah KPK. Banyak pejabat-pejabat yang ditangkap atau jadi pesakitan.
“Tidak ada negara di dunia yang 9 menterinya, 19 gubernurnya masuk penjara. Belum bupati, anggota DPR, DPRD,” beber JK. Nah, di sisi lain, ini menimbulkan ketakutan bagi para pejabat birokrasi membuat kebijakan atau mengambil keputusan.
“Akibatnya terjadi kelambatan. Mau ambil keputusan harus paraf kiri, paraf kanan. Hal-hal yang kecil-kecil jadi menghambat. Kalau Pak Jokowi tanda tangannya pendek, saya agak panjang, lama pasti,” selorohnya disambut tawa hadirin.
Dia menyebut, selama pemilu digelar, cuma satu daerah yang “terbakar” pada 2014. Yakni di Tarakan. “Saya sudah tiga kali ikut pemilu jadi punya hak prioritas untuk menilai.
Baca juga : Lava Pijar Keluar, Warga Diminta Menjauh 3 Km dari Gunung Merapi
Prabowo saat ini baru yang ketiga. Pak Jokowi kedua. Saya lebih menang di situ. Rekor juga bagus, 2 kali menang, 1 kali kalah,” beber JK. “Sekarang udah nggak bisa. Mau kolaps ikut kampanye,” imbuhnya. [OKT]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya