Dewan Pers

Dark/Light Mode

Disampaikan Di Webinar 50 Tahun Prisma

Fachry: Kampus Semakin Kehilangan Tradisi Ilmiah

Minggu, 5 Desember 2021 21:41 WIB
Mantan Kepala Program Penelitian LP3ES Fachry Ali. (Foto: Ist)
Mantan Kepala Program Penelitian LP3ES Fachry Ali. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Peluncuran edisi khusus Prisma di usia 50 tahun dirayakan dengan menggelar webinar 50 tahun usia Prisma pada Sabtu (4/12).

Hadir menjadi pembicara, Redaktur Senior Prisma Vedi R Hadiz, Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Indonesia Timur pada Kabinet Gotong Royong Manuel Kaisiepo, mantan Kepala Program Penelitian LP3ES Fachry Ali, Dosen Universitas Paramadina Atnike Sigiro, dan Cendekiawan, Dosen dan Penulis Senior Dr Nasir Tamara. 

Vedy menyebut, selama 50 tahun, meski sempat absen 11 tahun, Jurnal Pisma berhasil memotret sejarah sosial, politik dan ekonomi Indonesia.

"Dengan membaca Prisma, khalayak dapat memahami perdebatan intelektual yang terjadi di Indonesia terutama terkait masalah pembangunan, dampak pembangunan, siapa yang secara tidak adil menikmati hasil pembangunan dan lain-lain hal," urai Vedi.

Berita Terkait : Petani Binaan Pertamina Sulap Sekam Jadi Pupuk Organik

Dia menyebut nama Ben Anderson yang mencatat, Prisma adalah upaya dari para generasi muda intelektual Indonesia pada era 1970a-an yang menyusun semacam blueprint bagi masa depan Indonesia, terutama setelah berdirinya Orde Baru. "Prisma terlihat sangat pro pada modernisasi, liberalisasi namun berbungkus pluralisme," tambahnya. 

Sementara Atnike Sigiro menilai, Prisma berhasil mencatat secara konsisten problema-problema yang tak kunjung selesai dari sejarah perkembangan Indonesia sejak awal Orde Baru.

Tetapi para generasi penerusnya harus menyadari munculnya tantangan-tantangan zaman baru, disrupsi dan revolusi 4.0 yang mengubah bagaimana produksi pengetahun dilakukan.

"Dulu sumber informasi intelektual bisa jadi hanya lewat Prisma, namun kini telah semakin instan. Ada info online setiap saat, infografis, data online dan lainnya yang bisa diakses publik secara luas dari berbagai topik," kata Atnike.

Berita Terkait : Menkes Berdoa Pembuatan Vaksin Merah Putih Lancar

Sementara Fachy Ali menegaskan, selama 50 tahun Prisma meneguhkan tradisi intelektual di Indonesia, kini bisa dianggap kehilangan audiens.

Bukan karena Prisma tidak lagi menjadi ujung tombak pemikiran intelektual di Indonesia. Namun, karena salah satu pilar ilmiah yakni kampus semakin kehilangan tradisi ilmiah.

"Otomatis Prisma mengalami situasi lingkungan yang tidak mendukung. Padahal, Herbert Feith dulu menyebutkan Prisma lah satu-satunya jurnal pemikiran yang dibaca oleh lebih dari 10 ribu pembaca setiap bulan. Namun di tengah situasi de-intelektualisasi saat ini Prisma masih bisa survive, tentu sesuatu yang luar biasa," terang Fachri.

Sementara Manuel Kaisiepo mengungkapkan, secara historis, Prisma dan LP3ES sebetunya berjalan beriringan dengan konsolidasi kekuasan pada awal-awal orde baru.

Berita Terkait : Jokowi Heran, Senayan Sekarang Kok Pada Diam

Era 70 dan 80-an menjadi masa emas penerbitan dan peneguhan posisi intelektual Prisma dihadapan kekuasaan orde baru. Namun, Prisma menjadi semakin surut pada era 90-an bersamaan dengan lengsernya Suharto. [BSH]