Dark/Light Mode

Prof. Tjandra Yoga Aditama

Penyakit Pasca Tuberkulosis Perlu Diperhatikan

Kamis, 9 Desember 2021 10:42 WIB
Prof. Tjandra Yoga Aditama (Foto: Istimewa)
Prof. Tjandra Yoga Aditama (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
Masalah TB

Cukup banyak perhatian kita terhadap fenomena Long Covid, dan sudah banyak diberitakan. Tetapi, tidak demikian halnya dengan penyakit pasca TB.

Padahal, kuman penyebab tuberkulosis (TB) sudah ditemukan pada 1882, lebih dari 100 tahun yang lalu. Bahkan, Global TB Report 2021 menyebut Indonesia sebagai penyumbang kasus TB terbesar ketiga di dunia.

Di negara kita, diperkirakan ada 845 ribu kasus TB setiap setahunnya, dan ada 98 ribu kematian akibat TB setahun. Atau setara 11 kematian per jam.

Baca juga : Skrining Tuberkulosis Di Pelabuhan, Wujud Konkret Dukung Eliminasi TB 2030

Presiden Jokowi juga sudah mencanangkan Indonesia akan mengeliminasi TB di tahun 2030. Artinya, kita masih punya waktu 9 tahun lagi.

Karena itu, selain mengenal Long Covid, maka kita perlu juga menguasai dan menangani penyakit pasca TB.

Beragam Bentuk Pasca TB

Artikel di Jurnal Kedokteran Internasional Lancet tanggal 1 Desember 2021 menyebutkan, penyakit pasca TB dapat berupa ragam keadaan patologis pada mereka yang sudah sembuh dari TB.

Baca juga : Antibodi Masyarakat Dan Tetap Rendahnya Kasus Di India

Sudah lama diketahui, TB dapat mengakibat kerusakan destruktif jaringan paru-paru pasiennya. Bisa saja, kerusakan ini tidak pulih sepenuhnya, meski pasien telah sembuh dari TB dan kumannya tidak ada lagi. 

Beberapa bentuk kejadian penyakit pasca TB dapat berupa penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), bronkiektasis, hipertensi paru, gambaran restriksi pada pemeriksaan fungsi paru spirometri serta infeksi sekunder di paru bukan akibat TB.

Kalau pasien pasca TB ini kemudian mengidap penyakit respiratori kronik, maka dapat saja berhubungan dengan kerusakan permanen alat tubuh lain. Begitu juga dampak sosial dan psikologis pula. Bahkan, mungkin saja dapat berdampak pada kematian.

Istilah Sindroma Obstruksi Pasca Tuberkulosis (SOPT) pernah diperkenalkan, untuk menggambarkan pasien yang sudah sembuh dari TB, tetapi masih terus mengalami sesak napas sampai beberapa tahun kemudian.

Baca juga : Program DMPA APP Sinar Mas Kerek Ekonomi Perempuan

Selama ini, penyakit pasca TB belum mendapat perhatian penting di dunia, dan nampaknya juga di Indonesia. Data yang lengkap memang belum tersedia. Secara global, pada tahun 2020, diperkirakan ada 155 juta orang yang sudah sembuh dari penyakit tuberkulosis. Sebagian dari mereka  mungkin mengidap penyakit pasca TB.

Dalam berbagai laporan TB nasional dan dunia, maka biasanya tidak dibahas tentang morbiditas dan mortalitas penyakit pasca TB. Memang, dalam kodifikasi penamaan penyakit dalam International Classification of Diseases (ICD) versi 10 ada nomor kode B90.9 untuk gejala sisa tuberkulosis (tuberculosis sequelae). Namun, penamaan ini jarang digunakan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.