Dewan Pers

Dark/Light Mode

YAICI Luncurkan Buku Masa Depan Anak Terganggu Kental Manis

Selasa, 1 Maret 2022 16:45 WIB
Peluncuran dan bedah buku Masa Depan Anak Indonesia Terganggu Susu Kental Manis, yang digelar YAICI. (Foto: YAICI)
Peluncuran dan bedah buku Masa Depan Anak Indonesia Terganggu Susu Kental Manis, yang digelar YAICI. (Foto: YAICI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) mengadakan peluncuran dan bedah buku yang berjudul "Masa Depan Anak Indonesia Terganggu Susu Kental Manis". Acara ini dihadiri Ketua Harian YAICI Arif Hidayat, peneliti Pimpinan Pusat ‘Aisyiah Tria Astika, dokter sekaligus penyair dan penulis Handrawan Nadesul, serta pegiat literasi Maman Suherman.

Arif mengatakan, anak adalah generasi penerus bangsa yang harus dijaga kesehatan dan tumbuh kembangnya. Yaitu dengan cara memberikan asupan yang sesuai dengan usianya. 

"Oleh karena itu, penting bagi masyarakat, khususnya orang tua, untuk mengetahui literasi gizi," kata Arief, seperti keterangan yang diterima redaksi, Selasa (1/3). 

Berita Terkait : Bos NU Sehati Dengan Imin, Paloh Bicara Perang Dan Bencana

Dengan begitu, diharapkan orang tua tidak salah memberikan asupan makanan yang baik dan salah dalam pola asuh. Karena itu, kata Arief, pihaknya mengadakan peluncuran dan bedah buku yang berjudul “Masa Depan Anak Indonesia Terganggu Susu Kental Manis”.

Buku ini diklaim dapat membuka wawasan dan pengetahuan masyarakat dan menjadi acuan bagi seluruh pihak, baik pemerintah sebagai pemangku kebijakan, akademisi, maupun masyarakat dalam melihat persoalan gizi dan kebiasaan konsumsi susu kental manis oleh anak. 

Masyarakat, sebutnya, harus menyadari bahwa masa depan anak sebagai generasi penerus bangsa harus sama-sama kita kawal dan jaga dengan meningkatkan pengetahuan orang tua tentang gizi. Arif menjelaskan, penulisan buku tersebut berangkat dari hasil penelitian yang dilakukan YAICI bersama para mitra di beberapa daerah di Indonesia. 

Berita Terkait : Cukur Gundul Dukung Anak Pejuang Kanker, Ganjar Dibilang Mirip Jeff Bezos

Berdasarkan temuan YAICI di lapangan, pemahaman masyarakat mengenai gizi di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Hal itu terlihat dari persepsi masyarakat mengenai kental manis. Dari temuan di 5 provinsi di Indonesia, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku, dan NTT, diketahui ada 28,96 persen masyarakat mengatakan bahwa kental manis adalah susu pertumbuhan.

“Bahkan, sebanyak 16,79 persen ibu memberikan kental manis untuk anak setiap hari. Padahal, fakta menyebutkan kental manis tidaklah sama dengan susu dan tidak dapat mendukung tumbuh kembang kesehatan anak. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa kandungan gula SKM sangatlah tinggi yaitu 51-56 persen dengan kandungan lemak SKM berkisar 43-48 persen. Yang artinya, produk SKM ini dapat dikategorikan sebagai bukan susu melainkan pemanis dengan perisa susu,” jelasnya. 

Ketua Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah Chairunnisa menjelaskan alasan masyarakat masih mengkonsumsi kental manis, yaitu karena mudah didapat sampai pelosok-pelosok dan murah. “Hal ini ada korelasi dengan penelitian kami. Salah persepsi SKM dikonsumsi oleh masyarakat,” ujarnya.

Berita Terkait : Airlangga Tetapkan Anggota Kelompok Kerja Hingga Jadwal Pertemuan G20

Peneliti dari PP Aisyiah Tria Adtika mengatakan, dampak konsumsi kental manis tidak hanya stunting, anak juga terkena anemia, secara kognitif. Ia berharap, dengan terbitnya buku ini, akan memberikan informasi, intervensi yang diberikan ini sudah benar. [SAR]