Dewan Pers

Dark/Light Mode

Alumni Lemhannas Warning Terorisme & Radikalisme Di Tahun Politik

Agum: Hati-hati, Teror Bisa Terjadi Kapan Saja Dan Di Mana Saja

Kamis, 23 Juni 2022 14:44 WIB
Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar saat berbicara di coffee morning IKA Lemhanas, Rabu (22/6), di Jakarta. (Foto: Ratna Susilowati/RM)
Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar saat berbicara di coffee morning IKA Lemhanas, Rabu (22/6), di Jakarta. (Foto: Ratna Susilowati/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ancaman radikalisme dan bahaya terorisme menjelang pemilu, perlu jadi perhatian. Sejumlah purnawirawan dari Ikatan Keluarga Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (IKAL) menyampaikan warning itu, Rabu (22/6), saat coffee morning di Panglima Polim, Jakarta Selatan.

Hadir Ketua IKAL Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar dan jajarannya, yaitu Mustafa Abubakar (Menteri BUMN 2009-2011), Komjen Pol (Purn) Ito Sumardi (Dubes Myanmar 2014-2019), Komjen Pol (Purn) Togar Sianipar (Kepala Badan Narkotika Nasional 2002-2005), Marsdya TNI (Purn) Daryatmo (Kasum TNI 2012-2013).

Ancaman teroris mulai terasa trennya saat ini.

Kata Agum, teror itu berada di tempat gelap. Mereka bisa melihat kita, tapi kita tak bisa melihat mereka. Sehingga mereka bisa melakukan teror, kapan saja, di mana saja, dengan cara apa saja dan terhadap siapa saja.

Dulu, kata Agum, saat berkecimpung di dunia ini, salah satu cara untuk mencegah aksi terorisme adalah punya aparat intelijen yang canggih, sehingga mampu mendeteksi rencana teror.

Baca Juga : KPK Panggil Dua Manajer Summarecon Agung

“Data yang akurat bisa mencegah teror. Peran kita untuk ikut menjaga ini. Media, pejabat daerah harus bisa membaca gelagat. Masyarakat didorong berani menyampaikan, jika melihat ada gelagat mencurigakan,” kata Agum, yang juga mantan Menteri Pertahanan dan Menteri Perhubungan di era Gus Dur.

Menengok ke belakang. Para pendiri negara kita telah menyepakati Pancasila sebagai alat pemersatu, falsafah negara.

Pancasila adalah hasil pemikiran pejuang, yang telah membela tanah air dengan darah, nyawa dan air mata.

“Sehingga kalau detik ini, ada kekuatan yang mau mengganti NKRI dan mengganti Pancasila, itu adalah musuh negara,” tegas Agum.

Dan, di sisa usia pengabdian kepada bangsa dan negara, Agum mengingatkan bahwa jiwa Sapta Marga dalam dirinya, atau jiwa Tribrata dalam diri Polri, harus tetap tertanam sampai akhir hayat.

Baca Juga : Usut Kasus Korupsi Bupati Ade, KPK Garap Rachmat Yasin

Dia heran, kalau ada purnawirawan yang justru mendukung orang anti Pancasila. “Itu aneh bin ajaib. Dan itu ada,” katanya.

Agum mengungkap, waktu reunian di angkatannya, ada dua orang berpenampilan agak aneh. “Salah satunya, pensiunan berbintang,” paparnya.

Kalau ditanya, jawabannya pun mengherankan.

“Katanya, daripada masuk ke neraka. Aduh, purnawirawan saptamargais kok bicaranya begitu,” cerita Agum.

Karenanya, ini adalah bagian dari tugas untuk menyadarkan orang-orang seperti itu. Agum meminta, agar masyarakat diberikan pemahaman yang sederhana mengenai arti radikalisme.

Baca Juga : Kehilangan PAD Puluhan Miliar, Satpol PP Bongkar Raklame Ilegal di Kota Bandung

Hakekatnya itu adalah sikap, pikiran dan laku yang ingin mengganti Pancasila, dengan paham kiri atau paham lain.

“Jangan identikkan radikalisme dengan Islam. Saya ini Islam. Saya haji. Saya tidak rela disebut radikal, saat menjalankan kewajiban agama secara fanatik,” katanya.

Mestinya, kita harus bersyukur, karena Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan anugerah tidak ternilai kepada bangsa Indonesia.

Diberikan negara kepulauan yang strategis, kekayaan alamnya melimpah. Banyak negara tetangga yang iri, dan mencuri kekayaan alam kita.

“Tidak ada alasan, tidak menjadi bangsa yang besar. Tapi, mengapa jalannya terasa tersendat? Karena banyak kegaduhan-kegaduhan,” papar Agum.
 Selanjutnya