Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Luapan amarah atas pernyataan Simbolon juga datang dari masyarakat. Akibatnya, Simbolon dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR oleh pihak-pihak yang pro dengan TNI. Namun, kemarin, laporan itu distop MKD. Sidang MKD yang turut dihadiri Simbolon memutuskan tidak menindaklanjuti pelaporan terhadap politisi asal Sumatera Utara tersebut.
Wakil Ketua MKD, Habiburokhman mengatakan, permintaan maaf yang dilakukan Simbolon pada 14 September secara terbuka menjadi pertimbangan putusan pihaknya. "Atas dasar tersebut, dugaan pelanggaran etik terhadap teradu Effendi tidak dapat ditindaklanjuti oleh Mahkamah Kehormatan Dewan DPR RI," ucap Habib, membacakan hasil putusan sidang etik.
Baca juga : Dudung Redakan Kemarahan Prajurit
Simbolon lalu menanggapi hasil putusan itu. Dia mengklaim kooperatif dan mengikuti apa yang telah menjadi putusan MKD DPR. "Saya telah mendengar amar putusan. Ini merupakan suatu putusan dari MKD yang akan saya jadikan panduan. Saya izin untuk menerima amar putusannya untuk bekal saya, bekal keluarga saya," ujar dia, di hadapan hakim sidang.
Pada sidang tersebut, Simbolon juga mengaku mendapat intimidasi setelah potongan pernyataan kontroversialnya tentang TNI viral di medsos. "Saya sayangkan adanya proses-proses lanjutan yang mengintimidasi begitu, saya kira nggak zamannya lagi lah ya," tegasnya
Baca juga : Effendi Simbolon Minta Maaf, KSAD Minta Prajurit TNI Hentikan Protes
Dia bercerita, intimidasi yang didapatinya sampai pada ancaman nyawa. Intimidasi itu, juga dirasakan oleh keluarga. Lebih parahnya lagi, data pribadi dia dan keluarga ikut tersebar di medsos. Simbolon menduga ada pihak-pihak yang sengaja menyebarkannya.
“Iya, iya (dapat intimidasi). Ancaman nyawa. Semua (keluarga juga)," terang Simbolon.
Baca juga : "Last Minute Politics"
Padahal, dirinya tidak bermaksud melabeli institusi TNI dengan label aneh-aneh. "Stressing-nya adalah bahwa kalau tidak ada kepatuhan, pada kepatuhan itulah kehormatan bagi prajurit, maka itulah seperti gerombolan, begitu," tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.