Dewan Pers

Dark/Light Mode

TIIMM Resmi Dibuka Di Bali

4 Menteri Tampil Bersama

Jumat, 23 September 2022 07:55 WIB
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (tengah) bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) dan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia (kiri) berbincang jelang pertemuan G20 Trade, Investment and Industry Ministerial Meeting (TIIMM) di Nusa Dua, Badung, Bali, Kamis (22/9/2022). (Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo)
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (tengah) bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) dan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia (kiri) berbincang jelang pertemuan G20 Trade, Investment and Industry Ministerial Meeting (TIIMM) di Nusa Dua, Badung, Bali, Kamis (22/9/2022). (Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo)

 Sebelumnya 
“Mari kita jadikan pertemuan ini sebagai momentum berbuat lebih dan berpikir konstruktif agar kondisi dunia pulih bersama, dan lebih kuat lagi. Semoga dunia di masa mendatang menjadi semakin damai, adil, dan sejahtera,” harap Bahlil.

Sementara itu, Agus mengungkapkan, pembatasan sosial telah menurunkan permintaan barang dan jasa, mendisrupsi rantai pasok global, dan mengakibatkan resesi secara keseluruhan.

Sederhananya, krisis kali ini membuat dunia sadar akan konektivitas digital yang meng akselerasi digitalisasi diberbagai aktivitas ekonomi. Tidak berhubungan langsung, menjadi karakteristik era digitalisasi, khususnya di era pandemi.

Tantangan selanjutnya, yakni mengembangkan kebijakan untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Berita Terkait : Merasa Dikriminalisasi, Istri Mantan Menteri ATR/BPN Lapor Ke Ombudsman

Termasuk, menciptakan lingkungan kebijakan yang kondusif bagi industri manufaktur, melalui kebijakan perdagangan dan investasi yang terbuka dan tanpa hambatan.

“Sehingga kedepannya, kita dapat percaya diri menghadapi peristiwa tak terduga di masa mendatang. Tanpa melupakan mereka yang paling rentan terkena dampak krisis, dan memastikan tidak ada satu pun negara yang tertinggal,” ujar Agus.

Sementara Airlangga, menganggap penting penanganan krisis pangan dan energi. Jika tidak segera ditangani, pertumbuhan ekonomi global bakal terganggu, dan menjadi sumber masalah yang signifikan.

Tanpa makanan, jumlah orang miskin meningkat dua kali lipat. Dari 135 juta sebelum pandemi, menjadi 276 juta hanya dalam dua tahun.

Berita Terkait : Program Solusi, Perbaiki Akses Solar Buat Nelayan

Dampak perang Rusia-Ukraina mendorong kemiskinan menjadi 323 juta, sehingga menurunkan tingkat produktivitas.

Tanpa energi, sektor riil tidak akan dapat beroperasi. Dengan begitu, transisi ke energi hijau akan tertunda.

Indonesia percaya, industri sangat penting untuk segera ditangani. Karena pada dasarnya, industri merupakan motor untuk perdagangan, dan mengamankan rantai pasokan. Sementara investasi sangat penting untuk operasinya.

Berdasarkan studi UNIDO tahun 2022, kapabilitas industri telah menjadi kunci di negara dengan ketahanan pandemi. Selain itu, negara dengan indeks kinerja industri yang lebih kompetitif, lebih tahan dari dampak pandemi.

Berita Terkait : Menteri Amali Masuk Bursa Cagub Gorontalo

“Karena itu, G20 harus mempromosikan meningkatkan industri. Ini adalah panggilan serius untuk G20 bekerja sama lebih baik, memberikan insentif dan dukungan yang diperlukan untuk mendorong aspek industri pada adopsi teknologi untuk negara maju maupun negara berkembang,” ungkap Airlangga.

Tantangan saat ini juga membutuhkan solusi global. Ia yakin mekanisme multilateral akan menjadi instrumen terbaik. Dimana G20 dapat menemukan jawaban untuk mewakili kesatuan tujuan.

“Indonesia telah bekerja sama dengan anggota G20 lainnya dalam menetapkan arah strategis untuk mengembalikan kepercayaan pada institusi global dengan cara mereformasi itu. Dalam hal ini reformasi WTO sangat penting,” tandasnya. ■