Dark/Light Mode

Rumahnya Dijaga Preman, Mau Dijemput 1.800 Polisi

Enembe Bikin Ribet

Minggu, 2 Oktober 2022 06:50 WIB
Gubernur Papua Lukas Enembe (Foto: Pemprov Papua)
Gubernur Papua Lukas Enembe (Foto: Pemprov Papua)

RM.id  Rakyat Merdeka - Desakan agar KPK menjemput paksa Gubernur Papua, Lukas Enembe mulai banyak disuarakan. Karena sejak ditetapkan sebagai tersangka suap dan gratifikasi, Enembe terus berulah dan melakukan perlawanan. Terbaru, Enembe malah memerintahkan banyak preman untuk menjaga rumahnya, di Jayapura, Papua. Menyikapi hal itu, pihak kepolisian sudah menyiapkan 1.800 personel untuk menjemput paksa Enembe.

Preman yang mengaku sebagai simpatisan Enembe itu, berjaga ketat di rumah yang terletak di Koya Tengah, Distrik Muara Tami, Jayapura, Papua. Massa yang jumlahnya ratusan itu, berjaga di sepanjang jalan pintu gerbang masuk kediaman Enembe.

Para preman yang tadinya duduk-duduk, langsung berdiri jika ada yang melintas. Di depan gerbang kediaman Enembe, sebuah tenda berdiri tegak. Mereka yang berjaga, banyak dilengkapi dengan busur panah. Gerbang masuk juga dijaga ketat.

Baca juga : Komisi I Kebut Sahkan UU PDP

Pintu gerbang hanya dibuka sedikit, yang hanya bisa dilalui satu orang. 200 meter dari gerbang, tampak bangunan utama rumah Enembe. Ketatnya penjagaan membuat tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana. Mereka juga menutup jalan menuju rumah Enembe dengan eksavator.

Menurut Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustafa Kamal, massa yang berjaga itu, mengaku sebagai simpatisan Enembe. Mereka mulai memenuhi dan menjaga kediaman Enembe sejak adanya penetapan tersangka oleh KPK. Kata Kamal, massa itu datang dari daerah pegunungan, dimobilisasi oleh tim Enembe.

Kemarin sore, Enembe duduk di teras ditemani sejumlah keluarganya. Dia sengaja mengundang sejumlah media lokal untuk menjelaskan kondisi kesehatannya.

Baca juga : Trump Naik Pitam

“Ini stroke, bukan main-main,” kata Enembe. “Kalau saya emosian, mau marah-marah itu tensi naik, jadi saya tahan-tahan ini,” sambungnya.

Jika emosinya meledak, dia mengaku bisa stroke. Enembe bilang, selama ini berobat ke Singapura. Dia juga mengatakan sudah menjalani operasi akibat tensi darahnya yang tidak stabil. Ditambah jantungnya bocor sehingga harus menjalani operasi beberapa kali.

“Saya operasi jantung, bocor. Operasi kemarin tetap operasi kembali,” tutur politisi Demokrat itu.

Baca juga : Sambut Liga 1, Madura United Seleksi Pemain Inti

Selain itu, Enembe mengaku tidak bisa berdiri terlalu lama. “Belum bisa, kalau pelan-pelan bisa. Ini stroke, mati, bukan main-main,” kata dia, sambil berdiri yang kemudian dipegangi salah seorang keluarganya.

Tidak kooperatifnya Enembe, menurut KPK, karena ada pihak-pihak yang membangun opini agar Gubernur Papua itu, menghindari pemeriksaan. “KPK pun menyayangkan dugaan adanya pihak-pihak yang kemudian membangun opini agar saksi maupun tersangka menghindari pemeriksaan KPK,” kata Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.