Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M Nasir, bakal meminta setiap kampus mendata akun medsos mahasiswa, dosen, hingga pegawainya untuk mencegah penyebaran paham radikalisme di kampus. Langkah Nasir ini dapat jempol dari netizen karena penyebaran paham radikalisme sudah sangat mengkhawatirkan.
Nasir mengatakan, pendataan medsos dilakukan bersamaan dengan pemberian pemahaman ideologi Pancasila dan bela negara secara terus menerus. Nasir memastikan, kampus hanya sebatas melakukan pendataan. Kampus tak akan membatasi kebebasan berpendapat.
Nasir mempersilakan seluruh civitas akademika tetap bebas menyampaikan kritik, saran, atau segala bentuk pendapat terhadap isu apapun. "Jadi tolong, kebijakan ini jangan disalahartikan. Kita tidak akan membatasi demo, kajian atau pemikiran apapun di media sosial. Kecuali, menuduh agama lain tidak baik atau mengajak LGBT. Itu kalau terdeteksi radikalisme atau intoleransi akan dipanggil rektor, lalu diedukasi bahwa kamu enggak boleh ini. NKRI, Pancasila sebagai ideologi negara. Tidak serta merta dikeluarkan," terangnya, Jumat (26/7).
Baca juga : Doakan Bu Ani, Kedubes Malaysia Gelar Salat Gaib
Menurut dia, bentuk benih-benih radikalisme dan intoleransi seperti ini, harus dijauhkan dari lingkungan kampus. Apabila muncul bibit seperti ini di kampus, maka rektorat bertanggung jawab untuk memanggil dan memberi tahu pusat.
Jika ternyata benih radikalisme dan intoleransi sudah berkembang ke arah yang lebih berbahaya, Nasir tak akan bekerja sama dengan pihak lain seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) atau Badan Intelijen Negara (BIN).
Menanggapi rencana ini, netizen terbelah. Ada yang mengacungi jempol, ada juga yang nyinyirin Nasir. "Apapun alasannya, Radicalism in campus is dangerous. Dan itu mesti dicegah dan dibasmi. Urusan akademis tetep aja jalan," ujar akun @revofebri. Cuitan itu diamini @justinusas.
Baca juga : Cabut Pembatasan Medsos, Rudiantara, Kini Dipuji
"Tumpas habis kelompok-kelompok radikal intoleran yang berniat mengubah NKRI menjadi negara khilafah. Tumpas aktivitas infiltrasi ideologi khilafah terhadap anak-anak sekolah, mahasiswa, ASN, pegawai BUMN maupun terhadap masyarakat luas," cuitnya.
Tweeps @fa0efc1 pun setuju dengan langkah Nasir. "Setuju banget pak radikalisme harus segera diberantas sebelum beranak pinak," dukungnya, dibenarkan @beesibontot. "Naahhh iyah nih mantul bro idenya." Warganet pemilik akun @hanief_ibrahim melengkapi. "Lebih baik juga membuat program atau strategy bagaimana mahasiswa agar tidak terpapar radikalisme."
Sementara akun @soerdjoadjigmail menilai Nasir kurang kerjaan. "Pak Nasir kurang kerjaan. Di kalangan mahasiswa isu radikalisme sudah kuno, membosankan. Coba pak buat pernyataan yang lebih berkualitas deh," kicau akun ini disambut kritikan @yansprasetiadi. "Masalah kesejahteraan SDM perguruan tinggi lebih urgen, biarkan para dosen dan mahasiswa mengembangkan wacana intelektual, mohon jangan bungkam daya kritis mereka, sebab masyarakat menantikan peran intelektual membangun negeri ini."
Baca juga : Pendamping Lokal Desa Bakal Naik Gaji
Sementara akun @jiem_om meminta pemerintah memantau masuknya narkoba, yang jelas merusak moral anak bangsa." Sementara akun @nadzahrah mencuit yang seharusnya didata orang miskin, terus disejahterakan. Jika sudah sejahtera berpendidikan pasti tak akan punya pemikiran aneh-aneh.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menyebut, saat ini ada sekitar 23 persen mahasiswa terpapar radikalisme dan setuju pembetukan negara khilafah. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya