Dark/Light Mode

Suhu Bumi Naik, Pemerintah Disarankan Lakukan 4 Hal Ini

Jumat, 19 Mei 2023 10:34 WIB
Ketua Umum Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIK Indonesia Network), Mahawan Karuniasa. (Foto: Ist)
Ketua Umum Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIK Indonesia Network), Mahawan Karuniasa. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organisation (WMO) menyampaian temperatur global kemungkinan besar akan terlampaui di atas 1,5 derajat Celsius pada 5 tahun ke depan. Kejadian ini diperkirakan sementara selama minimal 1 tahun. 

UN Climate Change yang menangani perubahan iklim juga mengingatkan hal yang sama. Jika dibandingkan dengan 2015, pada saat itu sama sekali tidak ada potensi kenaikan temperatur melampaui 1,5 derajat Celsius, namun saat ini kemungkinan terjadi mencapai 66 persen.

Menanggapi hal tersebut, pakar lingkungan Universitas Indonesia, juga Ketua Umum Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIK Indonesia Network), Mahawan Karuniasa menyampaikan, beberapa catatan untuk upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Indonesia. 

Baca juga : Pemuda Papua Dukung Pemerintahan Tindak Tegas KKB

Pertama, pemerintah Indonesia tetap terus melanjutkan rencana mengeluarkan Second NDC di tahun 2025 agar agenda NDC tahun 2030 selaras dengan agenda Net Zero Emission (NZE) Indonesia. Demikian juga target-target Net Sink FOLU tetap dipertahankan. 

“Namun demikian isu Indonesia perlu mendorong negara-negara maju agar NZE mereka lebih cepat dari 2050, jika memungkinkan NZE negara maju pada tahun 2030,” ujarnya, Jumat (19/5).

Kedua, kata dia, berdasarkan Laporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring, Pelaporan, Verifikasi (IGRK dan MPV) KLHK, pada tahun 2020 emisi nasional sebesar 1,05 gigaton, atau mendekati 3,9 ton perkapita, angka yang aman dalam konteks keadilan emisi. Dengan demikian, Indonesia pelu mempertahankan tingkat emisi ini, dengan memperhatikan emisi sektor energi yang cenderung naik, jumlah penduduk yang terus bertambah, serta potensi cuaca panas ekstrem yang mengancam kebakaran hutan dan lahan.

Baca juga : Ridwan Kamil Raih Penghargaan Jer Basuki Mawa Beya

Ketiga, Indonesia perlu bekerja keras meningkatkan kapasitas adaptasi nasional, mengingat kenaikan di atas 1,5 derajad Celsius akan meningkatkan secara bencana hidrometeorologis, menurunkan produktivitas pangan baik di daratan dan lautan, meningkatkan penyakit menular, kesehatan mental masyarakat, serta kerusakan infrastruktur ekonomi karena banjir dan longsor. Ekosistem daratan dan lautan, sebaran spesies, serta perilaku alam juga akan mengalami perubahan nyata. 

“Kesemuanya ini akan berdampak ekonomi dan sosial semua pihak,” ujarnya.

Keempat, lanjut dia, kehilangan dan kerugian dari berbagai bencana (loss and damage) terkait perubahan iklim tentu akan meningkat, sehingga berdasarkan kesepakatan dalam COP27, Indonesia perlu percepat membangun instrumen dan mekanisme inventarisasi loss and damage, sebagai modalitas kerjasama internasional dalam pendanaannya. 

Baca juga : Bersilaturahmi Dengan Makhluk Spiritual

Menutup pernyataannya, Mahawan menambahkan, isu perubahan iklim membutuhkan dukungan politik, sehingga perlu menjadi bagian penting pada tahun politik saat ini. Tanpa dukungan politik, maka upaya pemerintah, kontribusi akademisi, perubahan sektor swasta serta aksi LSM dan masyarakat tetap akan bergerak lamban seperti yang terjadi saat ini.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.