Dark/Light Mode

Titiek Soeharto Ajak Tokoh Dunia Jadikan Tambling Laboratorium Hidup Konservasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 10:16 WIB
Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto menerima kunjungan 21 penerima Nobel, peraih Turing Award, ilmuwan, akademisi dan tokoh internasional di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung Selatan, Lampung, pada Kamis (27/8/2026) dan Jumat (28/8/2026). Dokumen TWNC.
Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto menerima kunjungan 21 penerima Nobel, peraih Turing Award, ilmuwan, akademisi dan tokoh internasional di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung Selatan, Lampung, pada Kamis (27/8/2026) dan Jumat (28/8/2026). Dokumen TWNC.

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Soeharto atau akrab disapa Mbak Titiek Soeharto mengajak komunitas ilmuwan dan tokoh internasional memperkuat kerja sama konservasi di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung Selatan, Lampung.

Ajakan tersebut disampaikan Titiek saat menerima kunjungan 21 penerima Nobel, peraih Turing Award, ilmuwan, akademisi, serta tokoh internasional di TWNC pada Kamis (27/8/2026) dan Jumat (28/8/2026).

Sebagai tuan rumah, Titiek memperkenalkan kekayaan biodiversitas Indonesia sekaligus pengalaman pengelolaan konservasi Tambling yang telah berlangsung selama sekitar tiga dekade. Menurut Titiek, Tambling memiliki potensi untuk berkembang menjadi ruang pertemuan antara kekayaan alam Indonesia dengan ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, dan jejaring internasional. Ia menekankan, upaya konservasi membutuhkan komitmen jangka panjang dan tidak dapat dilakukan hanya melalui proyek dalam waktu singkat.

“Tambling memperkenalkan sesuatu yang sangat penting. Konservasi bukan sebuah proyek pendek, tetapi sebuah komitmen panjang untuk generasi ke depan,” kata Titiek dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026).

Titiek meyakini Tambling dapat dikembangkan menjadi pusat pembelajaran konservasi yang melibatkan komunitas ilmiah dari berbagai negara.

“Hari ini, saya percaya Tambling Wildlife Nature Conservation bisa menjadi sesuatu yang lebih besar. Tambling bisa menjadi laboratorium hidup, di mana alam bertemu dengan sains, teknologi, pendidikan dan hubungan internasional,” ujarnya.

Baca juga : Titiek Soeharto Sambut Peraih Nobel di Tambling Wildlife Nature Conservation

Menurut politikus Partai Gerindra tersebut, kehadiran para penerima Nobel dan tokoh dunia menjadi peluang untuk memperluas kolaborasi antara pengalaman konservasi Indonesia dan komunitas internasional.

“Kami hadir bukan hanya untuk Tambling, tetapi juga belajar, membantu mengembangkan ide baru, membantu meneliti bagaimana sains dan teknologi dapat memperkuat perlindungan biodiversitas, iklim, resiliensi dan pembangunan yang berkelanjutan,” ungkap Titiek.

Dalam kesempatan tersebut, Titiek juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada Presiden Timor Leste José Ramos-Horta dan seluruh penerima Nobel yang hadir dalam kegiatan.

TWNC dipilih sebagai lokasi pertemuan karena memiliki bentang alam yang beragam serta rekam jejak panjang dalam pengelolaan konservasi. Kawasan tersebut dikelola Yayasan Artha Graha Peduli (AGP) sejak 1996 dan menjadi bagian dari program lingkungan AGP melalui kerja sama dengan Kementerian Kehutanan sejak 2008. Tambling mencakup sekitar 48.153 hektare kawasan hutan dan 14.089 hektare kawasan laut. Bentang alamnya meliputi hutan hujan tropis dataran rendah, hutan pantai, mangrove, danau, rawa air tawar, hingga hutan sekunder. Salah satu fokus konservasi di kawasan tersebut adalah perlindungan Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang berstatus kritis.

Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra di TWNC menangani dan memulihkan harimau yang mengalami konflik sebelum dikembalikan ke habitat alaminya.

Ramos-Horta Soroti Peran Masyarakat

Presiden Timor Leste sekaligus penerima Nobel Perdamaian 1996, José Ramos-Horta, menilai pengalaman Tambling menunjukkan pentingnya kepemimpinan dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam. Ia secara khusus menyoroti kepemimpinan Tomy Winata, pendiri Yayasan AGP, dalam menjaga kawasan tersebut selama sekitar tiga dekade.

Baca juga : Menko Pangan: Panen Raya Bawang Putih Di Sembalun Kurangi Ketergantungan Impor

“Satu hal yang bisa dipelajari adalah kepemimpinan. Ini adalah kepemimpinan Tomy Winata. Senang sekali bahwa pemerintah dan masyarakat memberikan tanggung jawab untuk mengurus kawasan ini selama 30 tahun,” kata Ramos-Horta.

Namun, Ramos-Horta menekankan keberhasilan konservasi tidak dapat dipisahkan dari masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan.

“Anda tidak bisa melakukan apa-apa tanpa berhubungan dan berkolaborasi dengan rakyat yang tinggal di sini. Mereka harus merasakannya, percaya padanya, dan kemudian mereka membuat pengalaman yang hebat. Mereka bukan penonton,” ujarnya.

Menurut Ramos-Horta, pengalaman Indonesia dalam menjaga lingkungan juga relevan bagi dunia di tengah ancaman kebakaran hutan, bencana alam, perubahan iklim, dan tekanan terhadap ekosistem.

“Indonesia sendiri adalah contoh untuk seluruh dunia,” imbuhnya.

Kesan serupa disampaikan Laura Anne, perwakilan salah satu penerima Nobel. Ia menilai Tambling memiliki karakter yang berbeda karena masih mempertahankan ekosistem alami yang memungkinkan berbagai satwa dan tumbuhan hidup dalam keseimbangan.

Baca juga : Polri Tanam Bawang Putih Serentak di 14 Polda, Potensi Panen 2.795 Ton

“Tambling adalah tempat yang sangat unik. Ini bukan kebun binatang atau taman, tetapi ekosistem alami di mana satwa, burung, ikan dan seluruh kehidupan di dalamnya masih berjalan dalam keseimbangan,” jelas Anne.

Menurut Anne, tantangan utama konservasi adalah menjaga keunikan kawasan tanpa menghilangkan keasliannya.

“Saya percaya setiap negara membutuhkan tempat seperti ini, agar kita menghargai apa yang kita miliki sebelum kehilangan, karena mengembalikannya jauh lebih sulit daripada menjaganya sejak awal,” pungkasnya.

Melalui pertemuan tersebut, Titiek berharap pengalaman konservasi Tambling dapat menjadi bagian dari pembelajaran global sekaligus membuka ruang kolaborasi lebih luas antara Indonesia dan komunitas internasional dalam menjaga biodiversitas, menghadapi perubahan iklim, serta membangun masa depan yang berkelanjutan. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.