Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Moeldoko menjawab, sebagai pemimpin yang dilahirkan dari akar rumput, dirinya bisa memahami dan mengevaluasi peristiwa demi peristiwa. Dia pun berpendapat, tidak mungkin spektrum itu terbentuk dan terbangun begitu saja. “Jadi, jangan berlebihan sehingga menakutkan orang lain,” tegas Moeldoko.
Moeldoko mengingatkan, isu besar itu bisa menjadi komoditas untuk kepentingan tertentu. Ini bisa dilihat dari pendekatan yang dilakukan dalam mem bangun kewaspadaan. Ada dua pen dekatan yang bisa dipilih pimpinan. Pertama, kewaspadaan yang dibangun untuk menenteramkan. Kedua, kewaspadaan yang dibangun untuk menakutkan. “Saya pilih yang pertama,” tegas Moeldoko.
Kalau pendekatan kedua yang di lakukan, lanjut Moeldoko, pasti ada mak sudmaksud tertentu. “Kewaspadaan kita bangun untuk menenteramkan keadaan. Bukan malah untuk menakutkan. Itu bedanya,” tutur Moeldoko.
Moeldoko lalu bicara perbedaan cara pandang dan sikap pimpinan atau prajurit TNI. Kata dia, perbedaan itu bisa muncul lantaran ketika pensiun, otoritas atas pilihan-pilihan itu melekat pada masing masing orang. Berbeda ketika mereka masih menjadi prajurit yang terikat Saptamarga dan Sumpah Prajurit.
Baca juga : Lacazette Janji Bikin Arsenal Terus Bersinar
Seseorang, lanjutnya, bisa berbeda kalau sudah bicara politik, bicara ke kuasaan, dan bicara achievement. “Karena ada ambisi,” sindirnya. “Kalau kepentingan tertentu itu sudah mewarnai kehidupan yang bersangkutan, maka saya jadi tidak yakin kadar Sapta Marganya masih melekat seratus persen,” tambah Moeldoko.
Dia pun menduga, kehebohan yang ditimbulkan Gatot itu cenderung bertujuan untuk kepentingan pribadi. Sebetulnya, sebagai sesama purnawirawan, Moeldoko selalu mengingatkan Sapta Marga kepada purnawirawan purnawirawan lainnya. Tapi, dia mengulang, kalau itu berkaitan dengan kepentingan, maka dirinya tidak punya otoritas untuk bisa melarang.
Pertanyaan-pertanyaan terakhir yang diajukan Staf KSP ke Moeldoko menyinggung gerakan KAMI atau Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia. Moeldoko menyebut, pemerintah tak khawatir dengan kehadiran organisasi besutan Gatot dan Din Syamsuddin itu. “Mereka itu bentuknya hanya sekumpulan kepentingan. Silakan saja, tidak ada yang melarang,” ucapnya.
Dinamika politik selalu berkembang. Tidak stagnan. “Setelah ada KAMI, nanti ada KAMU, terus ada apalagi, kan?” seloroh Moeldoko.
Baca juga : Para Legenda Bulutangkis Minta Moeldoko Jadi Ketum PBSI
Pemerintah, tegasnya, tidak akan bereaksi berlebihan selama KAMI masih bersifat gagasan-gagasan yang sesuai koridor demokrasi. Malah kalau gagasannya bagus, bisa saja diambil pe merintah. Tapi akan beda cerita jika mereka mulai mengganggu stabilitas politik. Moeldoko mengingatkan, negara punya kalkulasi dalam menempatkan demokrasi dan stabilitas. “Kalau bentuknya sudah menggang gu stabilitas politik, semua ada risikonya,” warningnya.
Kisruh Tabur Bunga
Terpisah, Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman menyebut, Acara tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata yang digelar Gatot bersama Purnawirawan Pengawal Kedaulatan Negara (PPKN), Rabu (30/9) tidak diketahui oleh organisasi yang sah menaungi para purnawirawan seperti Persatuan Purnawirawan Warakawuri TNI Polri (Pepabri) dan Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD). Acara ini juga tak mendapat izin Kementerian Sosial karena situasi Covid-19.
Dudung mengingatkan para purnawirawan TNI tetap waspada agar tidak dimanfaatkan pihakpihak yang mencari keuntungan. “Bapak-bapak purnawirawan yang kemarin, kami mohon mewaspadai informasi-informasi yang memanfaatkan purnawirawan untuk kepentingan pribadi,” pesannya.
Baca juga : Selamat Jalan, Sahabat (In Memorial Kristanto)
Gatot yang dihubungi kemarin menya takan, dirinya hanya diundang ke acara tabur bunga di TMP Kalibata itu. Gatot juga menyatakan, acara itu sudah izin ke Garnisum. Sementara itu, para aktivis KAMI masih diam terkait sentilan Moeldoko ini. Apakah hari ini aktivis KAMI akan langsung menyerang Moeldoko? Kita lihat saja. [OKT]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya