Dark/Light Mode

Menteri 34, Wamen 15

Orang Gemuk Susah Larinya

Sabtu, 26 Desember 2020 07:10 WIB
Menteri 34, Wamen 15 Orang Gemuk Susah Larinya

RM.id  Rakyat Merdeka - Setelah reshuffle, kabinet Jokowi jadi semakin gemuk. Total ada 34 menteri dan 15 wakil menteri (wamen). Apakah kabinet Jokowi bisa berlari kencang? Kita lihat saja. Yang pasti, biasanya orang yang kegemukan susah larinya.

Rabu (23/12), Presiden Jokowi melantik enam menteri baru yakni, Menteri Sosial Tri Rismaharini, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Agama Yahya Cholil Qoumas, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, dan Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Sakti Trenggono.

Sementara lima wakil menteri baru yang diangkat adalah Wakil Menteri Pertahanan M. Herindra, Wakil Menteri Hukum dan HAM Edward Komar Syarief Hiariez, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, Wakil Menteri Pertanian Harfiq Hasnul Qolbi, dan Wakil Menteri BUMN Pahala N. Mansyuri.

Pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengamini komposisi kabinet sekarang sangat gemuk. “Orang gemuk susah lari,” ujarnya, kepada Rakyat Merdeka, semalam.

Berita Terkait : Menteri Baru Jangan Korupsi

Hendri menduga, target perombakan kabinet kemarin agar tidak terjadi kegaduhan. Yang penting semua senang.

“Gemuk nggak apa, asal bahagia. Semua dapet, jadi semua bahagia. Kalau bahagia, kerja bisa semangat. Bila semua bahagia, maka nggak ada waktu untuk iri dengan kelompok lain, jadi kinerja kabinet tidak gaduh,” tutur pendiri lembaga survei KedaiKOPI ini.

Senada, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan, Shohibul Anshor Siregar menilai, Kabinet Indonesia Maju terlalu gemuk.

“Kegemukan kabinet itu, masih ditambah lagi dengan para wakil menteri,” ujarnya, kemarin.

Berita Terkait : Menteri PUPR Jamin Pengawasan Anggaran Infrastruktur Makin Ketat

Belum lagi, ada Kepala Staf Presiden (KSP) dan staf-staf milenial Presiden, serta juru bicara. “Semua menambah keriuhan di samping kegemukan yang kesemuanya mencerminkan ketidakterkoordinasian,” kritiknya.

Shohibul memprediksi, dengan susunan kabinet saat ini, tak akan ada perubahan ke depan. Dia menyarankan, kabinet dirampingkan saja. “Bandingkan negara seberkuasa dan sebesar Amerika, malah tak memiliki kabinet sebesar Indonesia,” tandasnya.

Politisi senior Partai Golkar, Ibnu Munzir juga menilai, posisi wamen yang ada di dalam pemerintahan terlalu gemuk. “Padahal, tugas Wamen bisa diberikan kepada para Dirjen. Kecuali, kalau ruang lingkup kerja di kementerian menumpuk, sehingga membutuhkan kinerja wamen,” tuturnya.

Jokowi pernah menjawab kritikan soal anggapan kabinetnya terlalu gemuk. Saat itu, banyak pihak menilai komposisi kabinet tidak efektif dan efisien. Bahkan, ada yang beranggapan posisi wamen mestinya tidak perlu karena membuat anggaran negara boros.

Berita Terkait : Edan, Kalau Masih Garong Duit Rakyat

Menanggapi hal ini, Jokowi menegaskan, posisi wamen, tercantum dengan jelas dalam Undang-Undang. “Saya kira nggak ada masalah,” tegas Jokowi.

Soal tudingan pemborosan anggaran, Jokowi bilang, itu sekadar perspektif. Menurut dia, kementerian-kementerian tertentu yang memiliki beban berat, tidak akan mungkin mampu mengelola negara yang memiliki 17 ribu pulau dan 267 juta penduduk jika hanya ditangani seorang menteri.

Jokowi mencontohkan, Kementerian BUMN yang memayungi 143 perusahaan. Contoh lain, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) yang harus mengurus 75 ribu desa. “Kalau
hanya Menteri Desa saja, siapa yang ngontrol dananya? Siapa yang ngontrol anggaran sampai? Tujuannya ke sana,” beber Jokowi. [OKT]