Dark/Light Mode

Netizen Gelisah Dengan Kebijakan Pemerintah

Tanya Pak, Mudik Dilarang Tapi Tempat Wisata Kok Dibuka Sih

Kamis, 15 April 2021 05:28 WIB
Ilustrasi Tempat wisata. (Foto : Istimewa).
Ilustrasi Tempat wisata. (Foto : Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Netizen masih berharap bisa pulang kampung merayakan Idul Fitri bersama dengan keluarga.

Kegelisahan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang melarang mudik Lebaran tapi membolehkan tempat wisata tetap buka, dijawab Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito.

Wiku menjelaskan, mudik atau mobilitas penduduk sangat berpengaruh pada peningkatan kasus Covid-19, sehingga harus dilarang. Sementara tempat wisata dan perjalanan jarak dekat tetap diperbolehkan karena mobilitas masyarakat terkontrol di wilayah yang sama.

Berita Terkait : Supaya Nggak Muntah, Swab Test Malam Hari Saja

“Kami belajar dari pengalaman sebelumnya, selalu setelah libur panjang atau akhir pekan, dua tiga pekan setelah itu terjadi ke­naikan angka kasus aktif dan kematian,” kata Wiku dalam jumpa pers virtual, Selasa (13/4).

Untuk itu, Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) meminta seluruh pihak memaklumi dan memahami situasi sekarang. Dia juga meminta semuanya mematuhi larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah.

“Kebijakan yang komprehensif itu untuk memastikan kita bisa mengontrol kasus pada saat Ramadan dan Idul Fitri,” jelas Adjunct Professor di bidang Infectious Disease and Global Health oleh Tufts University.

Berita Terkait : Kasus Covid-19 Bisa Meledak Kayak India, Memangnya Mau?

Netizen riuh dengan kebijakan pemerintah yang melarang mudik dan membuka tempat wisata. Bagi yang pro, penyebaran virus Corona selama momentum Lebaran perlu dicegah.

Sementara yang kontra menganggap, mudik dan tempat wisata sama-sama menimbul­kan kerumunan sehingga rawan penularan Corona.

Dwi Hartadi setuju dengan kebijakan pemerintah. Kata dia, segala aktivitas yang berpotensi menimbulkan penyebaran virus Corona antardaerah harus dicegah. Begitu pun, selama momentum Ramadan dan Idul Fitri.

Berita Terkait : Yuk, Disiplin Prokes Dan Kendalikan Nafsu

“Karena realitasnya virus belum hilang. Apalagi ada varian virus baru lebih cepat me­nyebar dan pasokan vaksin terhambat. Mohon dipahami sebagai warga Indonesia yang baik,” kata dia.
 Selanjutnya