Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Larangan Tinggal Larangan
Curi Start Mudik Sudah Terjadi Di Mana-mana
Selasa, 4 Mei 2021 07:50 WIB
Sebelumnya
Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo berharap, untuk urusan mudik ini, kepala daerah mengikuti kebijakan pemerintah pusat. Menurutnya, keputusan itu penting agar tidak terulang kejadian seperti tahun lalu. Sebab, meski sudah dilarang, setidaknya ada 7 persen masyarakat yang masih keukeuh melakukan mudik.
"Bahkan, sebelum Ramadan pun sudah ada yang kembali ke kampung halaman untuk melakukan berbagai macam aktivitas. Sehingga, kalau kita lihat, hampir semua provinsi di Pulau Sumatera mengalami kenaikan kasus, baik kasus aktif dan juga menurunkan angka kesembuhan, serta meningkat angka kematiannya," ungkap Doni.
Baca juga : Jangan Terima Gratifikasi Lebaran, KPK Ingatkan Pejabat Jadi Teladan yang Baik
Ia meminta Indonesia belajar dari sejumlah negara, khususnya India, yang sedang dilanda tsunami Covid-19. Saat ada pelonggaran ritual keagamaan, kegiatan budaya, dan olahraga, kasusnya tidak terkontrol. Buktinya, rata-rata kasus per hari di India lebih dari 400 ribu.
Doni menilai, larangan mudik dari pemerintah saja tidak akan cukup. Ia mengimbau masyarakat turut mengajak orang tua serta keluarga yang berada di kampung halaman untuk bersabar. Menurutnya, bersabar adalah salah satu kunci sukses pengendalian pandemi.
Baca juga : Jelang Larangan Mudik, Stasiun Pasar Senen Dipadati Penumpang
"Dengan bersabar, kita bisa menyelamatkan banyak orang, baik diri kita, keluarga, dan bangsa. Termasuk mereka yang masih punya keinginan untuk mudik. Tolong, sekali lagi dikendalikan keinginan tersebut, untuk bersabar, jangan mudik. Sekali lagi, komitmen pemerintah pusat harus didukung oleh seluruh komponen masyarakat," pesannya.
Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman menegaskan, larangan mudik harus dipertegas. Sebab, saat ini situasinya sangat memprihatinkan. Hampir setahun lamanya, Indonesia mendapat stempel sebagai community transmission dari WHO. Bahkan sebelum kasus Covid-19 meledak di India.
Baca juga : Tebar Bantuan, Perhutani Cari Berkah Di Bulan Ramadan
Jika ada mobilitas tinggi di masyarakat, Dicky khawatir penularan semakin massif. Sebab, Indonesia tidak bisa melacak sumber infeksi. "Sudah gitu, banyak klaster yang terjadi tapi tidak dituntaskan. Padahal klaster-klaster seperti itu harus dicari tahu," ulas Dicky, saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.
Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono meminta Indonesia bercermin dari kasus di India. Ketika terjadi pelonggaran mobilitas, potensi penularan Covid-19 terbuka lebar. Selain pelarangan mudik, Pandu meminta agar pemerintah mengurungkan rencana membuka wisata di Bali. Jika dipaksakan, dia khawatir Bali bisa menjadi seperti India. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya