Dark/Light Mode

Kota dan PTM

Jumat, 11 Juni 2021 14:03 WIB
Dr. Tantan Hermansah, Pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Komisi Infokom MUI Pusat
Dr. Tantan Hermansah, Pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Komisi Infokom MUI Pusat

 Sebelumnya 
Belum lagi kalau institusi pendidikan tersebut mengadakan perjalanan lokal seperti studi banding dalam berbagai modus: dalam kota seperti berkunjung ke museum, regional seperti wisata antar provinsi, bahkan global seperti wisata ke luar negeri, umrah, dan sebagainya.

Jadi kerinduan untuk PTM sebenarnya didorong banyak hal. Kebiasaan yang sudah membudaya dan melekat bertahun-tahun yang kemudian serta merta diputus tanpa ba-bi-bu dan tanpa ampun. Bayangkan saja, biasanya ada orang tua yang menunggui anaknya sambil “ngerumpi” di cafe sampai anaknya selesai belajar, hari ini dipaksakan belajar di rumah dan harus didampingi oleh orang tuanya.

Berita Terkait : PTM Terbatas Tahap Kedua, Dishub DKI Siapkan 75 Bus Sekolah

Saat ini, mau dibantu privat atau bimbingan belajar, karena mengandalkan media daring, tetap saja dianggap memberikan tambahan pekerjaan orang tua.

Sementara itu, bagi para pelaku bisnis derivat dari sistem pendidikan, yang sudah banyak berjatuhan karena mereka tidak lagi memiliki akses kepada siswa, lembaga, maupun orang tua, tentu PTM akan menjadi semacam cahaya baru bagi keberlanjutan kehidupannya.

Berita Terkait : Ganjar: Haram, Pembelajaran Tatap Muka Di Zona Merah

Dapur yang selama ini kadang nyala kadang mati karena tidak ada sumberdaya yang bisa dipanaskan, akan kembali menyala. Begitu juga usaha-usaha (terutama yang kelas Ultra Mikro dan Usaha Kecil) lain seperti ojek, antar jemput, privat ke rumah, dan sebagainya, kembali akan hidup dan mengisi kesibukan hari-hari kota. Di rumah, orang tua akan kembali sibuk menyiapkan sarapan tepat waktu, seragam, dan tentu saja sejumlah dana untuk jajan anak-anaknya dan (tentu saja) dirinya.


PTM telah menjadi harapan banyak orang dan kalangan. Sejatinya pemerintah mendengar dan merasakan denyut ini. Bahkan ketika ekonomi terpuruk karena banyaknya aktivitas yang terhenti (disrupsi), PTM tidak bisa dilihat hanya pada satu aspek: PBM semata. PTM baru yang diterapkan dengan prokes yang ketat, memiliki dampak signifikan pada masyarakat—terutama masyarakat kota.

Baca Juga : Partainya Putin Gandeng Golkar Kerja Sama Politik Dan Ekonomi

PTM bisa menjadi daya ungkit ekonomi masyarakat kita yang sudah sejak bawaan memang aktif, produktif dan kreatif. [*]

[Penulis adalah Doktor Sosiologi dari Universitas Indonesia (UI), Pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Komisi Infokom MUI Pusat]