Dark/Light Mode

Kota dan PTM

Jumat, 11 Juni 2021 14:03 WIB
Dr. Tantan Hermansah, Pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Komisi Infokom MUI Pusat
Dr. Tantan Hermansah, Pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Komisi Infokom MUI Pusat

RM.id  Rakyat Merdeka - PTM atau Pembelajaran Tatap Muka saat ini menggema seiring dengan optimisme banyak pihak mengenai kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam merespon pandemi Covid-19.

Pemerintah pun kemudian merespons keinginan banyak pihak, terutama pengelola lembaga pendidikan dan orang tua siswa, dengan mengeluarkan beberapa kebijakan, yang basisnya adalah beberapa pembatasan, seperti: jumlah kumpulan siswa dalam satu kelas tidak boleh lebih dari 25%; maksimal tatap muka hanya 2 jam dan 2 hari dalam seminggu, serta tetap menerapkan prokes (protokol kesehatan) yang ketat.

Berita Terkait : PTM Terbatas Tahap Kedua, Dishub DKI Siapkan 75 Bus Sekolah

PTM tentu merupakan kebutuhan. Apalagi sebelum adanya pandemi. PTM adalah budaya PBM (Program Belajar Mengajar) yang dilaksanakan untuk mendidik siswa dan mahasiswa pada berbagai insitusi pendidikan.

Hampir semua desain pendidikan diarahkan untuk menunjang kesuksesan PTM ini. Sehingga ketika terjadi disrupsi model pembelajaran dari sistem tatap muka ke daring, tentu saja kebanyakan dari kita mengalami dan merasakan guncangan itu. Lembaga pendidikan, institusi keluarga, dan masyarakat umum, semua merasakan guncangan akibat adanya shifting desain pembelajaran di sekolah atau kampus.

Berita Terkait : Ganjar: Haram, Pembelajaran Tatap Muka Di Zona Merah

Di masa normal, dampak PTM ini sangat besar kepada masyarakat perkotaan (dan juga sebagian ke masyarakat pedesaan, tentu). Lihat saja, sekolah-sekolah berlomba-lomba membuat program yang “kelas dunia”, berbahasa dunia, kompetisi se-dunia atau antar negara-negara di dunia, serta yang tidak terlewati: bangunan mentereng yang (katanya) kelas dunia. Selain yang levelnya dibuat mendunia, sekolah lain pun berlomba-lomba menawarkan program-program berbasis “menyamankan” customer (dalam hal ini orang tua dan siswa).

Dampak dari semuanya adalah bahwa semua visualisasi itu harus ditopang oleh sumberdaya yang melekat kepada masing-masing. Kualitas pendidikan kepada institusi sekolah/ kampus; dan dana yang tidak murah kepada orang tua siswa/ mahasiswa.

Baca Juga : Partainya Putin Gandeng Golkar Kerja Sama Politik Dan Ekonomi

Dampak turunannya adalah ekonomi masyarakat yang hidup. Para pengajar sejahtera, pengelola lembaga makmur, jasa-jasa ikutan seperti catering, antar jemput, tempat makan/ minum, serta tempat nongkrong para orang tua siswa, siswa dan mahasiswa ramai.
 Selanjutnya