Dewan Pers

Dark/Light Mode

Diungkapkan Wapres

Teori Konspirasi Membuat Orang Tak Percaya Corona

Minggu, 27 Juni 2021 07:05 WIB
Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin saat menghadiri Pelantikan Pengurus Besar Mathla’ul Anwar dan Muslimat Mathla’ul Anwar Masa Khidmat 2021-2026, melalui konferensi video, Sabtu (26/6/2021). (Foto: Twitter @Kiyai_MarufAmin)
Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin saat menghadiri Pelantikan Pengurus Besar Mathla’ul Anwar dan Muslimat Mathla’ul Anwar Masa Khidmat 2021-2026, melalui konferensi video, Sabtu (26/6/2021). (Foto: Twitter @Kiyai_MarufAmin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Meski lonjakan kasus Covid-19 nyata-nyata terjadi di Tanah Air, masih banyak masyarakat yang tidak mempercayai virus tersebut. Penyebabnya, informasi yang sesat.

Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin menyebut, banyak orang yang tak percaya Covid-19 hanya karena terpengaruh teori-teori konspirasi yang bermunculan di media sosial.

“Akibatnya, kita menyaksikan banyak kalangan menjadi kor­ban, seperti ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap pandemi Covid-19 karena terpengaruh provokasi teori konspirasi,” ujar Ma’ruf saat menghadiri Pelantikan Pengurus Besar Mathla’ul Anwar dan Muslimat Mathla’ul Anwar Masa Khidmat 2021-2026, melalui konferensi video, kemarin.

Menurut Ma’ruf, disrupsi yang ditimbulkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berbasis digital merupakan salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.

Berita Terkait : Serius Tingkatkan Literasi, Jembrana Punya Perda Khusus Perpustakaan

Disrupsi tersebut telah mengubah berbagai aspek kehidupan masyarakat. Baik dalam cara berkomunikasi, bertransaksi, bahkan dalam cara berdakwah.

Ma’ruf pun meminta masyarakat, khususnya Pengurus Besar Mathla’ul Anwar yang baru, dapat membuat terobosan teknologi informasi di tengah pandemi Covid-19.

Teknologi itu harus bisa mendorong masyarakat melaksanakan protokol kesehatan 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak dalam kehidupan sehari-hari.

Terpisah, Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika Prof Henry Subiakto juga menilai, kegaduhan di dunia nyata seputar Covid-19 tak lepas dari dampak medsos. Jagat maya membentuk kebenaran semu (false truth) lewat kegaduhan.

Berita Terkait : Rayakan Hari Krida, Mentan Ajak Milenial Majukan Sektor Pertanian

“Kadang masyarakat percaya hoaks, karena kecenderungan clickbait membaca dan menyimpulkan secara cepat. Kemudian confirmatory bias, mudah percaya informasi yang mirip prasangkanya,” ujar Henry.

Selain itu, masyarakat juga kerap percaya disinformasi yang berasal dari teman sekelompok yang memiliki nilai, sikap dan kepercayaan yang serupa.

Masyarakat juga mudah percaya terhadap informasi berulang atau sama yang datang dari berbagai sumber. Apalagi, jika ada publik figur yang membenarkan hoaks.

“Atas dasar itu semua, jangan terlalu percaya dengan isi medsos, karena banyak diwarnai permainan dan rekayasa,” imbaunya.

Berita Terkait : Singapura Akan Perlakukan Covid-19 Sama Dengan Flu

Henry mengingatkan, berdasarkan hasil penelitian Oxford University, ada manipulasi-manipulasi disinformasi secara global untuk menyesatkan masyarakat. “Termasuk di Indonesia, lewat buzzer atau cyber army,” tegas Henry. [JAR]