Dark/Light Mode

Supaya Aman Dan Nggak Ditutup Lagi

Calon Jemaah Umrah, Tolong Patuhi Aturan Karantina Ya...

Sabtu, 23 Oktober 2021 06:20 WIB
Ibadah umrah di masa pandemi. (Foto: REUTERS).
Ibadah umrah di masa pandemi. (Foto: REUTERS).

RM.id  Rakyat Merdeka - Calon jemaah umrah akhirnya bisa bernafas lega, setelah Arab Saudi membuka pintu untuk Indonesia. Namun, ada syarat yang wajib dipatuhi. Yakni karantina selama 5 hari di Arab Saudi.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Prof Wiku Bakti Bawono Adisasmito meminta jemaah umrah asal Indonesia mematuhi ketentuan karantina 5 hari di Arab Saudi. Hal ini sangat penting, demi menjaga kesehatan dan keamanan di Arab Saudi dan Indonesia.

“Jadi kita harus memastikan, selama dalam pandemi untuk orang yang melakukan perjalanan internasional betul-betul sehat dan aman. Aman buat kita, aman buat negara tujuan,” ujar Wiku dalam diskusi virtual yang disiarkan melalui YouTube FMB9ID_IKP.

Berita Terkait : Garuda Pilih Kanan Kiri Oke

Dia mengatakan, selama menjalankan ibadah umrah, jemaah Indonesia juga harus terus mematuhi protokol kesehatan (prokes). Apalagi, selama melaksanakan umrah, jemaah Indonesia pasti berkumpul dengan jemaah lain dari berbagai negara.

“Patuhi aturan karantina dan protokol kesehatan agar tidak terjadi penyebaran kasus, baik kita membawa ke tempat lain atau ke keluarga sendiri,” tegas dia.

Wiku menambahkan, keputusan Pemerintah mengizinkan perjalanan umrah setelah mem­pertimbangkan banyak hal dengan sangat hati-hati. Karena itu, dia meminta jemaah umrah harus betul-betul memanfaatkan kesempatan tersebut dan tidak melanggar prokes.

Berita Terkait : Kiai Ma’ruf Minta Tolong Ke Ulama

Sebelumnya, Direktur Bina Haji dan Umrah Kementerian Agama, Nur Arifin mengatakan, jemaah umrah Indonesia akan mendapatkan kartu scan sertifikat vaksin Covid-19 sebelum berangkat ke Arab Saudi. Kartu tersebut akan memudahkan jemaah umrah menyampaikan status vaksinasi kepada Arab Saudi.

“Kami buat keputusan bahwa jemaah tidak hanya membuat aplikasi (PeduliLindungi), tapi setiap jemaah dibuat kartu, nanti dikalungkan. Jadi ketika ada scan langsung kartunya dilihat sehingga mempermudah je­maah terutama para lansia dan tidak terbiasa dengan teknologi,” katanya.

Konsul Jenderal RI (KJRI) di Jeddah, Eko Hartono mencontohkan Nigeria. Kata dia, jemaah umrah asal negara itu mengandalkan buku berisi nama, tempat tanggal lahir, gen­der, jenis vaksin lengkap, maupun booster. Buku tersebut sudah disertakan dengan barcode vaksinasi.

Berita Terkait : Puan-Gibran, Mesranya...

“Itu saja. Sangat simpel tapi fungsional, efektif. Jadi jangan kemudian kita ini canggih-canggih ternyata tidak bisa dibaca,” ujarnya.

Eko juga mencontohkan jemaah umrah Bangladesh yang menggunakan jenis vaksin Covid-19 sama dengan Arab Saudi. Yaitu, Pfizer, Moderna, AstraZeneca, dan Johnson and Johnson. Meskipun, mayoritas masyarakat Bangladesh memakai vaksin Sinovac.

“Begitu mereka mau umrah mereka minta di­vaksin dengan 4 yang dipakai Saudi,” ujarnya.
 Selanjutnya