Dark/Light Mode

Latah Lockdown

Kamis, 2 April 2020 01:48 WIB
Ngopi - Latah Lockdown
Catatan :
SISWANTO

RM.id  Rakyat Merdeka - Istilah lockdown begitu populer belakangan ini. Dari elite hingga ke gang sempit. Dari penguasa hingga ke rakyat jelata. Di dunia nyata, terlebih dunia maya. Bahasnya sama: Lockdown.

Mereka yang bersuara, tak selalu paham. Ada juga maksud tertentu dari desakan untuk lockdown. Istilahnya, cari panggung di tengah pandemi Covid-19. Tapi banyak juga yang menyerukan lockdown memang tulus. Khawatir penyebaran virus ini massif dan tak terkendali. Mencontoh negara lain yang sudah lakukan lockdown, meskipun juga tidak ampuh.

Belakangan ini, istilah lockdown mulai agak terlupakan. Di jajaran elit ngeributin istilah baru yang dilemparkan Presiden Jokowi: Darurat Sipil. Ada yang pro, tapi lebih banyak yang menolak. Bahkan jajaran koalisi pemerintah terang-terangan menolak diberlakukan Darurat Sipil.

Baca juga : Corona Bikin Merana

Presiden kemudian ambil jalan tengah. Tidak lockdown, bukan karantina wilayah atau Darurat Sipil. Bahasa yang dipakai Jokowi: Pembatasan Sosial Skala Besar (PSSB). Sehari disampaikan, besoknya langsung keluar payung hukumnya lewat Peraturan Pemerintah.

Sementara perdebatan tentang lockdown agak mengendur. Tapi di kalangan bawah, lockdown bukan lagi bahan debat. Sudah jadi aksi. Keputusan sepihak, tanpa kompromi.

Di tingkat RT, RW, kompleks atau kampung, lockdown udah jadi trend. Semuanya berlomba-lomba lakukan lockdown. Setiap akses masuk maupun keluar, ditutup. Ditempeli pengumuman, "wilayah ini atau kampung ini sudah lockdown". 

Baca juga : Iri Sama Tiongkok

Sebagai antisipasi, kita perlu apresiasi. Tujuannya untuk meredam wabah Covid-19 masuk ke wilayahnya. Orang luar, tak bisa sembarang mondar-mandir di kampung tersebut.

Apa efektif? Saya ragu untuk ini. Apalagi, kalau lockdown dilakukan hanya ikut-ikutan. Sekedar latah dengan kampung tetangga. Esensi dari lockdown pun banyak yang nggak paham. Hanya tahu, kalau lockdown, orang luar kampung nggak boleh masuk.

Pesimis saya beralasan. Karena yang dicegah hanya warga luar untuk masuk. Sementara, warga dalam masih bisa keluar masuk kampung tanpa pengawasan ketat. Warga yang bekerja, masih beraktifitas normal. Keluar pagi, pulang malam. Padahal, orang ini punya peluang membawa Covid-19 dari luar ke lingkungan tempat tinggalnya. Tanpa dia sadar.

Baca juga : Berubahnya Pembeli Sembako di Pasar

Mereka yang lakukan lockdown mengaku, tidak bisa melarang warga yang ingin bekerja. Bahkan melarang warga yang ingin keluar kampung buat pergi ke pasar. Alasannya, tidak punya kewenangan. 

Tentunya, bila orang masih bisa lalu-lalang ke luar pemukiman, kenapa akses harus ditutup? Efektif tidak, merugikan sudah tentu. Pedagang kecil yang biasa keliling kampung, jadi sulit cari pembeli. 

Siapa pun, tentu cemas dan khawatir tertular virus ini. Namun rasionalitas perlu dijalankan. Isolasi mandiri, mengurangi sebanyak mungkin aktifitas di luar rumah, bisa jadi upaya diri kita terhindar dari virus ini. Terpenting, cuci tangan tiap saat, konsumi buah dan vitamin, olah raga dan berdoa. Insya Allah, kita terhindar tanpa harus lockdown pemukiman.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.