Dark/Light Mode

Diingatkan Debt Collector, Jangan Tergiur Pinjol

Sabtu, 30 Oktober 2021 06:28 WIB
Ngopi - Diingatkan Debt Collector, Jangan Tergiur Pinjol
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Pinjaman online (Pinjol) memang menggiurkan. Kondisi ekonomi sekarang ini dan dengan iklan yang ditawarkan terus-menerus tentu membuat sebagian orang terpana. Belum lagi syarat yang sangat mudah tanpa harus survei ke rumah terlebih dahulu. Hanya modal kartu identitas dan foto diri dengan memegang kartu identitas, pinjaman sudah masuk ke rekening. Apa nggak tergiur?

Kalau ekonomi sudah tercekik, tawaran ini sangat menarik. Kebutuhan sehari-hari atau untuk modal usaha kadang memang membutuhkan dana segar cepat dan pinjaman semacam ini dijadikan solusi. Asalkan kita konsisten dengan ketentuannya, yakni pinjol adalah utang dan harus dibayar, silakan saja.

Berita Terkait : Sekolah Tatap Muka

Permasalahannya adalah, banyak orang tergiur manis tawaran iklan pinjol dan nggak mampu bayar cicilannya sehingga tercekik denda pinjol. Telepon harus siap-siap menerima panggilan dari lembaga pinjol dan rumah pun siap-siap kedatangan debt collector.

Kasus ini baru saja saya rasakan di dekat rumah saya. Tiba-tiba ada orang mengetuk, datang menanyakan tentang keberadaan tetangga saya. Saya bilang, dia mengontrak rumah tersebut dan kurang bersosialisasi dan sudah sebulan tidak tinggal di lingkungan kami. Panjang lebar si debt collector ini cerita. Dia menjelaskan bahwa tetangga saya punya utang pinjol.

Berita Terkait : Sebatang Rokok Direbut dan Dibuang

“Kebiasaan kalau sudah nunggak pasti pindah,” cetus sang debt collector tersebut.

Pria dengan badan yang tinggi tegap, rambut cepak, wajah sangar ini memang cocok buat penagih utang. Tetapi, karena dia datang ke rumah saya untuk menanyakan tentang tetangga saya, komunikasinya sangat sopan dan perilakunya santun. Saya pun memilih tidak bicara banyak tentang tetangga saya, hanya yang saya tahu. Karena saya juga tidak tahu tentang riwayat pinjam meminjam ini.

Berita Terkait : Menangis Karena Bahagia

Di akhir obrolan, penagih utang tersebut mengingatkan saya untuk tidak tergiur dengan pinjaman online jika dikira-kira tidak mampu untuk membayarnya. Dia cerita, bahwa selama pandemi tugas dia semakin banyak, karena banyak orang berani ajukan pinjaman tapi tidak bayar. Memang, utang tidak dilarang, tapi saat kita melakukan akad kredit, baik dengan lembaga keuangan atau pribadi, maka di situ juga kita harus konsekuen untuk membayarnya. Semoga kita dapat terlindung dari pinjol sang penggoda. [Nana Maulana/Wartawan Rakyat Merdeka]