Dark/Light Mode

Klub Bola Zaman Batu

Selasa, 7 September 2021 06:13 WIB
Ngopi - Klub Bola Zaman Batu
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Di era digital ini, banyak orang yang lebih suka bicara di medsos ketimbang di depan publik atau di hadapan media. Hal ini juga terjadi pada sebuah klub sepak bola ibu kota bersama para pemainnya.

Saya tidak akan menyebut nama klubnya di sini. Yang jelas, klub itu diisi pemain-pemain andal dan nama beken di dalam serta di luar lapangan. Banyak punggawanya menjadi langganan tim nasional.

Berita Terkait : Belajar Aquascape

Mereka kini rajin tampil di publik, tapi cuma sebatas di medsos. Di media mainstream, mereka irit bicara. Mengunci mulut rapat-rapat, bahkan terkesan membuang muka. Virus itu juga tertular pada jaringan media internal klub itu.

Hal ini membuat sebagian dongkol. Terutama para jurnalis, yang sejak lama ikut membesarkan klub tersebut dengan berbagai berita.

Berita Terkait : Kebagian Covid Juga

Mereka dongkol. Dulu mereka ikut kerja keras membesarkan klub tersebut, tapi sekarang mereka dilupakan. Jarang diberi informasi oleh internal media tersebut. Karena cukup dibagikan di medsos. Padahal, ada jaringan media tersendiri yang mereka bentuk untuk membagikan aktivitas klub. Tujuannya supaya awak media tidak perlu repot-repot menengok platform lain dalam membuat sebuah berita.

Dengan sikap seperti itu, ada seorang teman jurnalis menyindir, klub itu kembali ke zaman batu. Soalnya, klub itu kini menjadi tertutup. Sedangkan yang mereka ungkapkan di medsos, hanya yang positif-positif saja. Hanya kulitnya. Isinya tidak pernah dibedah.

Berita Terkait : Geliat Pasar Malam

Kendati demikian, mungkin saja temen-teman jurnalis itu dan saya yang salah menerjemahkan ketertutupan klub itu ke media. Tapi yang jelas, semoga ke depannya akan ada lagi hubungan baik antara jurnalis dan klub itu. [Khoirul Umam/Wartawan Rakyat Merdeka]