Dewan Pers

Dark/Light Mode

Ngobras Bareng Di YouTube

Bamsoet-Hendropriyono Bahas Dunia Intelijen Hingga Persoalan Terkini Bangsa

Sabtu, 15 Januari 2022 14:03 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo (kiri) bersama mantan Kepala BIN AM Hendropriyono. (Foto: Istimewa)
Ketua MPR Bambang Soesatyo (kiri) bersama mantan Kepala BIN AM Hendropriyono. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR Bambang Soesatyo yang juga dianugerahi Warga Kehormatan Badan Intelijen Negara (BIN) mengungkapkan, bangsa Indonesia patut bangga memiliki anak bangsa seperti AM Hendropriyono. Hendro ditetapkan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai Profesor dan Guru Besar bidang ilmu Filsafat Intelijen pertama di dunia. Sehingga tidak berlebihan jika publik menjulukinya sebagai the master of intelligence.

"Sepak terjangnya di dunia intelijen tidak perlu diragukan. Sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) 2001-2004 pada Kabinet Gotong Royong dengan Presiden Megawati Soekarnoputri, Pak Hendropriyono menggagas lahirnya Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di Sentul, Bogor; Dewan Analis Strategis (DAS) Badan Intelijen Negara; Sumpah Intelijen; Mars Intelijen; serta menetapkan hari lahir badan intelijen; menciptakan Logo dan Pataka BIN; mempopulerkan bahwa intelijen sebagai 'ilmu' dan menggali 'filsafat intelijen'; hingga menggagas berdirinya tugu Soekarno-Hatta di BIN," ujar Bamsoet, sapaan akrab Bambang, dalam podcast Ngobras sampai Ngompol (Ngobrol Asyik sampai Ngomong Politik) bersama AM Hendropriyono, di Jakarta, Sabtu (15/1).

Berita Terkait : Jalani Tugas Baru Sebagai Sekjen IORA, Dubes Salman Bahas Investasi Hingga Teknologi

Ketua DPR ke-20 ini mengungkapkan, Hendro menjelaskan ada dua metode umum yang digunakan dalam dunia intelijen. Yakni metode gelap dan metode terang. Dalam metode gelap, seorang intel harus menyamar untuk mendapatkan informasi. Seperti menjadi tukang bakso, hingga siomay. Bahkan jika perlu menjadi orang dengan gangguan kejiwaan sebagaimana pernah dilakukan seorang tentara Jepang berpangkat kapten yang sedang melakukan tugas intelijen untuk merebut Lapangan Terbang Kemayoran dari tentara Belanda pada 1942.

"Sedangkan untuk metode terang, seorang intel mencari informasi secara terang-terangan. Misalnya seperti yang dilakukan oleh para Duta Besar di berbagai negara, yang salah satu tugasnya mencari informasi tentang kondisi negara tempat ia bertugas," jelas Bamsoet.

Berita Terkait : Bamsoet Bahas Kondisi Perekonomian Terkini Dan Dukung Langkah Jokowi

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menerangkan, tidak hanya di dunia Intelijen, Hendro juga sangat peduli terhadap kemandirian sekaligus kedaulatan Alutsista. Tidak heran jika ia sampai mengoleksi Panser Anoa produksi Pindad, yang dipajang di depan rumahnya sebagai wujud kebanggaan bahwa bangsa Indonesia sebetulnya sangat bisa memproduksi berbagai Alutsista modern dan berteknologi tinggi.

"Panser Anoa mulai dikembangkan Pindad pada tahun 2003. Berbagai purwarupa dan pengembangan terhadap panser terus dilakukan, hingga akhirnya pada 10 agustus 2008, 10 panser pertama APS-3 Anoa di produksi dan pada tahun 2009 panser pertama diserahterimakan kepada Kementerian Pertahanan. Bahkan juga telah di ekspor ke berbagai negara, seperti Malaysia dan Filipina," pungkas Bamsoet.

Berita Terkait : Sekjen MPR Ingatkan Pentingnya Pembangunan Karakter Bangsa

Keseruan obrolan Bamsoet dengan Hendrop, dari mulai sepak terjangnya di dunia intelijen, membahas berbagai kondisi terkini, hingga memprediksi masa depan Indonesia. Bamsoet juga mengulik peran masa depan Intelijen Nasional, Laut Cina Selatan Natuna, Ibu Kota Baru, Demokrasi digital, dunia halu di era metaverse, Amandemen, hingga perpanjangan jabatan presiden. Semuanya ditayangkan lengkap di kanal YouTube Bamsoet Channel. [USU]