Dark/Light Mode

Banyak Yang Pilih Jalan Pintas

Bos! Bersihkan Politik Uang Mulainya Dari Parpol Aja Dah

Rabu, 27 Januari 2021 06:55 WIB
Ilustrasi uang. (Foto: Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka)
Ilustrasi uang. (Foto: Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mencari biang kerok politik uang, ibarat cerita telur dan ayam. Mana yang lebih dahulu muncul. Yang jelas, praktik tercela itu harus diberangus.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Golkar, Sekarwati menganalogikan politik uang di pesta demokrasi ibarat lingkaran setan. Tidak bisa dibuktikan ujung permasalahannya. Apakah memang politisi partai politik yang memberikan, atau memang rakyat yang meminta uang. “Seperti lingkaran setan, yang minta, masyarakat atau politisi,” ujarnya, di acara webinar yang digelar Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), kemarin.

Baca juga : Persentase Preshold Disunat Aja Dah

Sekarwati menceritakan pengalamannya ketika menjadi Calon Legislatif (Caleg) DPR untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah VII di Pemilu 2019. Bisa dibilang dapil neraka, ka lrena memiliki tingkat persaing an dan lawan yang berat.

Di Dapil Jawa Tengah VII, Sekarwati yang saat itu Caleg Partai Golkar nomor urut dua, harus bersaing dengan politisi top, seperti Bambang Soesatyo, Fadli Zon, Utut Adianto, hingga Taufik Kurniawan.

Baca juga : Teken Kontrak, Proyek Jalan Tol Cisumdawu Dan Pluit Mulai Dikerjakan

Dosen di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta ini membeberkan, seluruh program kerja yang dibangun bersama masyarakat akhirnya tumbang karena maraknya politik uang di hari pemilihan. “Politik uang seolah menjadi jalan pintas untuk menang, last minute,” sebutnya.

Diungkapkan, banyak masyarakat yang tidak mengerti tugas legislatif. Sebagian ada yang memahami tugas DPR melakukan pembangunan infrastruktur. Misalnya, jembatan. Padahal, itu tu gas eksekutif. Sedangkan legislatif memastikan pembangun itu tepat guna.

Baca juga : Pemerintah Kudu Bisa Yakinkan Masyarakat

Dalam kesempatan itu, Sekarwati mengaku kerap menjelaskan bahayanya politik uang kepada masyarakat. Dia mencontohkan. Ketika seorang pengusaha membeli per suara seharga Rp 50 ribu. Minimal untuk menjadi ang gota legislatif meraih 500 ribu suara. Artinya, perlu modal Rp 25 miliar untuk membeli suara. Tentunya pengusaha ingin uang nya kembali. “Itu yang kita jelaskan kepada masyarakat, agar menjadi pemilih cerdas,” katanya. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.