Dark/Light Mode

Luruskan Soal Cuitannya

Rachland: Saya Murid Gus Dur

Selasa, 23 Februari 2021 00:33 WIB
Politisi Partai Demokrat Rachland Nashidik. (Foto: ist)
Politisi Partai Demokrat Rachland Nashidik. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kaget. Itulah yang pertama dirasakan Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (Wasekjen DPP) Partai Demokrat, Rachland Nashidik ketika mendapatkan somasi dari Barisan Kader Gus Dur (Barikade Gus Dur).

Dengan perasaan aneh, dia pun bertanya-tanya, mengapa sampai diserang para loyalis Presiden Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Rupanya, itu terkait cuitan di media sosial Twitter yang menyebutkan, jika makam Gus Dur dibangun negara. 

Cuitan itu lengkapnya begini: Pertama, bukan museum keluarga. Kedua, inisiatif pendanaan datang dari Pemprov --itu juga cuma sebagian. Terbesar berasal dari sumbangan dan partisipasi warga. Ketiga, sebagai pembanding, anda tahu makam Presiden Gus Dur dibangun negara?

Berita Terkait : Putri Gus Dur Anggap Khilaf

Dalam cuitan tersebut, Rachland memajang situs berita Kompas sebagai referensi. Beritanya, tahun 2010. Benar saja, di situs tersebut, Agung Laksono sat itu menjabat Menko Kesra menyebutkan, Pemerintah akan melengkapi kawasan makam Gus Dur dengan berbagai fasilitas, seperti tempat parkir, kamar mandi, merchandising, museum, perpustakaan, pagar, bahkan perluasan dan perlebaran jalan.

"Saya melampirkan sumber cuitan, yaitu berita dari Kompas, yang menjelaskan maksud dari cuitan tersebut. Saya sudah baca juga berita Kompas tersebut sebelum melepas cuitan," jelas Rachland.

Menukilkan sumber berita tersebut, dia mengatakan, negara atas dasar penghargaan terhadap Presiden Gus Dur, memikirkan agar makam Gus Dur mendapat fasilitas yang memudahkan warga yang berziarah. Perhatian tersebut diekspresikan dalam rapat kabinet yang menyepakati kawasan makam akan dibuat senyaman mungkin.

Baca Juga : Kemendagri Ganti 23.064 Dokumen Kependudukan Korban Banjir Di Jateng

Seperti ditulis Kompas, "Pemerintah akan melengkapi kawasan makam dengan berbagai fasilitas, seperti tempat parkir, kamar mandi, merchandising, museum, perpustakaan, pagar, bahkan perluasan dan perlebaran jalan".

Dalam berita itu juga disebutkan, Menko Kesra Agung Laksono sempat memperkirakan anggaran akan mencapai Rp 180 miliar.

Untuk memastikan, Rachland mengaku sudah membaca ulang twit yang sudah dituliskan dan menyadari bahwa tanpa membaca berita Kompas itu, netizen bisa salah mengerti. Bahwa yang dibangun bukanlah makam itu, melainkan fasilitas publiknya. Meski tidak juga bisa dibantah bahwa fasilitas yang melengkapi makam itu dibangun negara sebagai wujud penghormatan pada Presiden Abdurrahman Wahid. "Saya memohon maaf," ucap Rachland, tulus.

Baca Juga : Cegah Karhutla, Ini 6 Instruksi Presiden

Dia mengaku sebagai murid Gus Dur dalam ajaran kebhinekaan dan demokrasi. Juga sebagai anggota pengurus dari Forum Demokrasi yang dahulu dipimpin Gus Dur. Intinya, hubungan personalnya sangat dekat. Bahkan Gus Dur adalah salah satu dari beberapa senior yang menyumbang bagi biaya pernikahannya pada 1996, di samping Adnan Buyung Nasution, Rahman Tolleng dan Sjahrir.

Saat Gus Dur wafat, sebagai Direktur Eksekutif Imparsial, lembaga pengawas HAM, Rachland menyampaikan pernyataan yang dikutip Tempo, bahwa wafatnya Gus Dur adalah kehilangan tak terkira bagi bangsa Indonesia, bagi perjuangan pluralisme, serta kebebasan beragama.

"Dikutip Tempo, saya juga menyatakan, cita-cita dan perjuangan Gus Dur masih jauh dari mendekati selesai. Bahwa pemerintah perlu bertindak benar dalam menghormati rasa kehilangan dan kesedihan, dengan menyatakan perkabungan nasional bagi Gus Dur dengan pengibaran Bendera Merah Putih setengah tiang secara nasional."
 Selanjutnya