Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ahli Epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman
Kapan Swab Test Antigen Masuk Data Covid? Jangan Kelamaan
Selasa, 2 Maret 2021 18:26 WIB
Sebelumnya
Posisi kita saat ini bagaimana Pak?
Kita sudah ketinggalan. Sebelum 2 Maret 2020, sepertinya virus itu sudah menyebar di Indonesia. Kondisinya jadi makin runyam, karena strategi 3T (testing, tracing, dan treatment) belum memadai sejak awal. Tidak sesuai dengan skala pendduk dan eskalasi pandemi. Positivity rate selalu di atas 10 persen, sejak awal pandemi.
Ini akan menjadi bola salju, masalah besar yang membuat kita sulit memutus transmisi Covid-19 yang berpola eksponensial. Ini berbahaya, terlihatdari tingginya angka kematian.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang memiliki angka kematian tinggi akibat Covid.
Gelombang pertama kita yang masih belum berakhir ini adalah kontribusi dari 3T kita yang stabil rendah. Ini harus diperbaiki.
Bagaimana Bapak melihat upaya pemerintah saat ini?
Sejauh ini, saya lihat, banyak yang masih dalam tahapan wacana, belum terimplementasikan. Bicara tentang swab test antigen, misalnya. Sampai sekarang, belum ada sinyal pelaksanaannya. Ini yang harus diperkuat, di tengah program vaksinasi yang menjadi primadona.
Baca juga : Digital Tracing Kian Mendesak, Klinik Demam Harus Disegerakan
3T harus ditingkatkan. Bahaya kalau diabaikan. Penguatan respon pada komunitas, sudah mulai terlihat. Inilah yang memang harus kita perkuat. Karena komunitas memiliki peran besar untuk melandaikan kurva.
Dalam respon kesehatan, kita juga harus melihat bahwa kita belum mengarah pada level yang diharapkan. Saya lihat, strategi masih lebih condong pada kuratif dan masih belum fokus. Padahal, pandemi adalah masalah yang harus direspon dengan strategi public health, yang condong ke promotif dan preventif.
Tidak ada kata terlambat. Ayo kita perbaiki di setiap level di nasional hingga lokal. Satu hal lagi, surveillance genomic juga harus ditingkatkan.
Bagaimana dengan komunikasi pemerintah? Apakah ada hal yang perlu diperbaiki?
Memang, ada faktor yang sangat penting dan menjadi catatan, yaitu masalah komunikasi dan leadership. Di dalamnya, harus terkandung komunikasi risiko. Ini luar biasa penting, dari awal sampai akhir.
Saya lihat, ada beberapa pejabat dan kepala daerah yang strategi komunikasi risikonya bagus. Tapi, secara umum masih rata-rata. Belum sesuai harapan.
Soal leadership, ini bukan hanya masalah presiden, gubernur, bupati atau wali kota saja.Tetapi juga termasuk para pemuka agama dan tokoh masyarakat. Dalam situasi ini, mereka harus punya peran. Para leader harus mampu menjadi teladan.
Baca juga : Perlu Pembatasan Lebih Besar Untuk Cegah Klaster Pilkada, Prokes 3M Saja Tak Cukup
Apa lagi catatan Bapak dalam hal komunikasi publik?
Sangat disayangkan, banyak statement pejabat publik yang tidak berbasis sains. Ini tentu akan kontraproduktif. Makanya, komunikasi dan leadership ini harus satu kesatuan.
Bisa kita lihat, daerah-daerah yang komunikasi dan leadership-nya memadai, transparansinya cenderung bagus.
Kalau catatan positifnya bagaimana Pak? Apa yang positif dari penanganan pandemi Covid di Indonesia dalam setahun ini?
Yang paling positif adalah program vaksinasi. Performanya jauh melebihi 3T.
Tapi ingat, kita tidak bisa menempatkan vaksinasi sebagai satu-satunya solusi. Karena jika 3T tidak memadai, kita akan semakin jauh dari tujuan mengendalikan pandemi. Ini yang harus kita perbaiki.
Ada pesan lainnya lagi, Pak?
Baca juga : Belum Ada Tanda Pandemi Covid-19 Segera Berakhir
Kita perlu kolaborasi di setiap level pemerintah pusat dan daerah. Bukan polarisasi.
Saya lihat, saat ini masih saja ada yang terpolarisasi karena Pilpres. Orang yang maju Pilpres sudah aman damai, tapi yang di bawah ini masih ribut. Ini kontraproduktif.
Katakanlah, ada pendapat yang sepertinya ilmiah, tapi terkesan berlawanan dengan arah kebijakan pemerintah, itu dianggap sebagai oposisi.
Seharusnya, itu tidak boleh terjadi. Kita harus terus belajar menjadi bangsa yang kritis.
Kalau tidak kita perbaiki, nanti pendekatan strategi pemerintah tidak bisa dikritisi. Jadinya, hanya sesuai dengan asumsi atau keinginan. Itu berbahaya dan merugikan kita semua. Itu harus segera kita perbaiki. [SAR/JAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya