Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
Sebelumnya
Sementara kita tahu, di Indonesia, (orang) politik hanya berantem lima tahun sekali. Setelah itu, bagi-bagi kursi atau bagi-bagi yang lain.
Tarohlah, misalnya, sekarang ada kelompok yang mendukung Anies dan tidak mendukung Puan, atau sebaliknya. Kalau pada Pilpres 2024 nanti orang politik atau parpol menduetkan Anies-Puan, mau bilang apa? Ini hanya sekadar satu contoh. Masih ada beberapa simulasi pasangan yang bisa mengaduk-aduk emosi rakyat. Yang membuat rakyat bertanya terheran-heran, “kok bisa begini? Bukankah mereka minyak dan air?”
Baca juga : Mental Inlander Dan Kompeni
Kuasa dan kewenangan parpol, terutama ketuanya memang sangat besar. Dalam Pilkada atau Pilpres, seringkali terjadi ketidaksesuaian atau kesenjangan antara keinginan rakyat dengan pilihan para petinggi parpol.
Rakyat hanya diminta memilih orang parpol yang duduk di DPR atau DPRD. Lima tahun sekali. Setelah itu, rakyat tidak bisa memaksakan parpol mendukung sesuai pilihan rakyat. Parpol dikendalikan oleh para ketuanya. Mereka yang memutuskan. Bukan rakyat.
Baca juga : Minta Komitmen Sebelum Di-OTT
Kalau ada yang bersikeras, anggota DPR/DPRD adalah wakil rakyat, bukan wakil parpol, dan parpol tak bisa mendikte serta tak bisa menegur wakil rakyat: itu hanya teori. Diajarkan di ruang-ruang kuliah. Indah di atas kertas. Paling tidak, untuk saat ini.
Kalau tidak percaya, coba tanya Fadli Zon yang minggu lalu ditegur ketuanya, Prabowo. Fadli Zon yang dikenal kritis, langsung menghilang dari media sosial. Tak ada lagi suara kritisnya. Paling tidak, sementara ini.
Baca juga : Obat Covid, Kabar Baik Dan Tanda Tanya
Kasus “menghilangnya” Fadli Zon ini juga disikapi berbeda oleh kelompok yang meminta MUI dibubarkan dan kelompok yang mendukung Densus 88 dibubarkan. Ada yang bersorak “syukurin!”. Ada juga yang membela Fadli sembari mengkritik sikap parpolnya, Gerindra.
Begitulah kondisi. Kalau pertarungan dua kubu ini tidak dihentikan, wajah Indonesia ke depan, sudah bisa diramal. Wajah luka akibat warisan pertarungan “ideologis” berkelanjutan yang terus tumbuh. Subur. Menyedihkan. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.