Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
Sebelumnya
Kalau di gedung wakil rakyat ada yang tersenyum, di pasar-pasar rakyat, di warung-warung di kampung, rakyat justru menjerit. Harga beberapa komoditi melonjak. Misalnya, cabai, minyak goreng, gas, telur, semuanya melambung. Tinggi sekali. Bagi rakyat, ini sangat terasa dan berdampak.
Baca juga : Inovasi Dan Kearifan Tembang Pucung
Harga minyak goreng yang melesat drastis, menjadi ironi tersendiri. Karena, sesungguhnya, pasokan minyak sawit Indonesia sangat banyak. Bahkan, Indonesia menjadi negara penghasil CPO terbesar di dunia.
Baca juga : BNI Dorong Sindikasi Di Akhir Tahun
Melonjaknya harga minyak goreng ini ibarat “anak ayam atau tikus mati di lumbung padi”. Ironi ini sejalan pendapat beberapa pakar, bahwa lahan hutan yang hilang di Indonesia tak sepadan dan tidak sebanding dengan kesejahteraan rakyat.
Baca juga : Berbagi Energi Positif Di Akhir Tahun (3)
Sampai kapan ironi-ironi ini berlangsung? (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.