Dewan Pers

Dark/Light Mode

Koalisi Dan 3 Pasangan Capres

Minggu, 24 Juli 2022 06:49 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - PDI-P menginginkan koalisi tunggal. Demikian berita Rakyat Merdeka, kemarin. Sekjen PDI-P Hasto Kristyanto yang melontarkan gagasan itu, belum jelas dan terang mengungkapkan maksudnya.

Arahnya kira-kira bisa begini: koalisi satu saja. Jangan dua. Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang sudah terbentuk, dilebur saja. Bergabung bersama PDI-P.

KIB yang beranggotakan Golkar, PAN dan PPP, sepertinya tetap ingin membentuk koalisi sendiri. Mereka sudah menang start. Kalau pun ada yang mau bergabung, parpol lain yang harus “melamar” ke KIB.

Seperti yang disampaikan tokoh PPP, mereka menginginkan ada tiga pasangan capres-cawapres. Kalau hanya dua pasang, polarisasi akan terus memanas. Ini tidak baik bagi bangsa. Begitu alasannya.

Berita Terkait : "Lampu Merah Cibubur, Indonesia"

Apalagi KIB disebut-sebut sudah punya jagoan sendiri: Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng yang unggul di beberapa survei.

Kalau akhirnya ada tiga pasang, maka, akan ada pasangan yang diusung koalisi PDI-P plus, koalisi KIB, dan (kemungkinan) koalisi Surya Paloh Cs.

Rumitnya, Ganjar orang PDI-P. Dan dia unggul di beberapa survei. Sementara “orang dalam” PDI-P sepertinya lebih condong mencapreskan Puan Maharani.

Karena “polarisasi” internal inilah, Ganjar sempat dijewer keras oleh beberapa tokoh PDI-P. Misalnya, disebut gubernur medsos, ambisius, dan tak punya prestasi. Riak ini sempat pula memunculkan istilah “celeng” untuk pendukung Ganjar.

 

Berita Terkait : Kasus Papua, Sampai Kapan?

Walaupun Ganjar orang PDI-P (apalagi kalau nanti menyingkir sementara dari markas banteng), dan memenangi pilpres, tentu saja “IMB dan SIM-nya” akan ditandatangani oleh pengusungnya: KIB. PDI-P akan duduk di gerbong depan tapi agak di belakang.

Dengan demikian, visi-misi KIB-lah yang akan dikedepankan. KIB-lah yang akan duduk di sampingsupir, menjadi navigator yang akan meneruskan program-program Presiden Jokowi.

Kalau capres PDIP yang menang, tentu tidak ada masalah. Aman bagi PDI-P. Tapi kalau capresnya KIB yang menang, posisi PDIP setengah atau duapertiga aman.

Yang paling aman dan nyaman, tentu saja KIB. Misalnya, jumlah menteri atau kursi-kursi di posisi strategisnya akan lebih banyak.

Berita Terkait : Kendalikan Harga!

Kondisi akan tidak aman kalau pilpres dimenangi pasangan yang diusung Surya Paloh Cs. Sehingga, bisa muncul ucapan, “apa gue bilang, koalisi tunggal saja. Jangan dipecah-pecah”.

Kemungkinan apa pun masih bisa terjadi. Yang terduga, tidak terduga atau mengejutkan. Peta koalisi dan kekuatan masih bisa berubah. Apalagi pilpres masih cukup lama.

Yang paling dekat, tentu saja urusan dapur; harga minyak goreng, cabe, gula, gas, BBM, atau naiknya uang jajan anak karena jajanan di sekolah semuanya naik.

Bagi rakyat, masalahnya “tidak tunggal”. Banyak. Mau berkoalisi pun bingung, koalisi sama siapa, walaupun semua parpol dan capres berteriak lantang “kami berjuang demi rakyat”. ■