Dark/Light Mode
Wartawan Senior
Sebelumnya
Tapi, bisa juga karena koalisi yang terlalu gemuk. Kok bisa? Karena, koalisi yang terlalu gemuk, maka kepentingan pun akan semakin gemuk.
Akibatnya, kompromi-kompromi semakin terbuka. Ada kewajiban untuk membalas kebaikan politik mitra koalisi. Akibatnya, sebagian janji-janji terpaksa dipinggirkan dulu.
Karena itu, penting untuk memastikan ada mekanisme untuk menagih janji atau kontrak politik.
Baca juga : Darurat Judol Menembus Senayan
Juga penting untuk memastikan ada keseimbangan antara legislatif dan eksekutif. Sehingga, masing-masing pihak bisa saling mengawal dan mengawasi dengan baik.
Termasuk untuk mewujudkan janji-janji politik.
Fraser McMillan, pengajar politik di University of Glasgow dalam artikelnya di The Conversation, menulis tentang hal ini.
Baca juga : "Tentuin Saja Pemenangnya…"
“Janji lebih sering dipenuhi ketika suatu partai tidak harus berbagi kekuasaan dengan partai lain, misalnya dalam pemerintahan koalisi”.
Dalam artikel yang terbit pada 29 November 2019 itu, dia menyontohkan politik di Austria dan Italia yang terbiasa dengan pemerintahan koalisi. Di dua negara itu, hanya sedikit janji-janji yang dipenuhi.
Di Indonesia, pemerintahan koalisi sepertinya menjadi keniscayaan. Sulit untuk tidak berbagi kursi. Hanya saja, jangan sampai karena harus berbagi di tingkat atas di internal koalisi, kepentingan rakyat di bawah dikesampingkan.
Baca juga : Besok, Plot Twist Apa Lagi?
Tentu saja, Indonesia tidak sama dengan Austria atau Italia. Semoga memang tidak sama. Kita hanya bisa berdoa. Bukan doa politik, tapi doa rakyat, setiap hari.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.