Dark/Light Mode

Hati-hati Krisis Pangan

Selasa, 5 Mei 2020 01:36 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Hati-hati! Indonesia bisa diterpa krisis pangan akibat pandemi Corona. “Lumbung padi” Indonesia, terutama Thailand dan Vietnam, sekarang fokus untuk kebutuhan dalam negeri mereka. Ancaman cuaca ekstrem juga bisa memicu krisis pangan.

Kalau para petani produsen tidak diperhatikan serius dan tidak dilindungi, ancaman itu bisa menjadi kenyataan. Food and Agriculture Organization (FAO) PBB juga sudah mengingatkan adanya ancaman krisis tersebut.

Bisa dipahami kalau beberapa hari lalu, Presiden Jokowi meminta BUMN untuk keroyokan mencetak sawah baru. Hanya saja, perhatian terhadap pertanian jangan “panas-panas tai ayam”. Perlu keseriusan dan berkesinambungan.

Baca juga : Menakar Isu TKA China

Saat ini, politik pertanian di Indonesia masih belum memihak kepada para petani. Tak heran kalau saat ini, berdasarkan data pemerintah, ada 2,44 juta petani masuk kategori miskin. Sekarang, mereka akan mendapatkan insentif Rp 600 ribu.

Itu cukup membantu di saat sulit seperti sekarang. Namun, bagi petani, konsistensi keberpihakan pemerintah, jauh lebih penting.

Saat ini misalnya, lahan pertanian berkurang, tergerus oleh pembangunan fisik, regenerasi petani mandeg, proteksi terhadap hasil pertanian, minim. Anak-anak muda tak mau menjadi petani karena citranya miskin.

Baca juga : Kritikan Keras JK

Ini berbeda dengan beberapa negara yang pertaniannya maju. Jepang misalnya. Petani di Jepang sangat makmur. Kaya-kaya. Regenerasinya lancar.

Di sana, profesi petani sangat dihargai. Rata-rata penghasilannya sekitar 2 miliar rupiah. Kenapa, karena keberpihakan pemerintah. Mereka dilindungi sedemikian rupa, terutama dari hasil pertanian impor. Kualitasnya juga terjaga. Teknologi pertaniannya selalu up to date. Canggih.

China juga demikian. Pertaniannya sangat diperhatikan. Tak heran kalau negara agraris seperti Indonesia kebanjiran hasil pertanian dari China.

Baca juga : Nasi Anjing dan Kepekaan

Ini berbeda dengan di Indonesia. Perhatian dan keberpihakan terhadap petani belum optimal. Ketahanan dan kemandirian pangan masih perlu diperjuangkan. 

Dua hari lalu misalnya, seorang petani peternak di Jawa Barat, seperti diberitakan salah satu stasiun TV, melepas ribuan anak ayamnya. Mungkin dia seorang dermawan. Tapi alasan utamanya karena dia tak mampu lagi menyediakan pakan yang harganya sangat mahal. Karena itu, dia memilih  melepas ayam-ayamnya. Di negara-negara yang keberpihakannya jelas, pakan ternak diberikan gratis.

Di Indonesia, keberpihakan itu masih kurang. Bahkan ada pejabat yang dengan gampangnya mengatakan: kalau harga beras naik, ya diet saja; kalau cabe mahal, tanam sendiri; kalau harga daging mahal, bisa diganti dengan keong sawah. Atau, kalau beras masih mahal juga, ya tawar saja!(*)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.