Dark/Light Mode

Para Cukong Main Di Pilkada

Sabtu, 31 Oktober 2020 08:12 WIB
ISWARA DARMAYANA
ISWARA DARMAYANA

RM.id  Rakyat Merdeka - Pilkada serentak 9 Desember 2020 diperkirakan ma sih akan jadi ajang pertaruhan para cukong.

Sebab, kalau kandidat gubernur, bupati atau walikota yang dibiayai menang, selama lima tahun ke depan sang cukong akan mengendalikan si kepala daerah. Kalau kalah, ya gigit jari.

Berita Terkait : Putar Otak Atasi Resesi

Pasangan calon kepala daerah yang awalnya kurang populer, setelah dibiayai cukong bukan mustahil bisa menang di Pilkada.

Tapi dampak buruknya, akibat permainan itu pula, akan muncul kepala daerah yang tidak berkualitas. Baik dari sisi kompetensi maupun integritas.

Berita Terkait : Perang Total Lawan Covid

Menko Polhukam Mahfud MD menyebutkan, data dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menunjukkan, 82 persen calon kepala daerah dibiayai cukong. Akibatnya, kepala daerah akan terjebak pada korupsi kebijakan yang menyusahkan rakyat.

Kepala daerah yang saat Pilkada dibiayai cukong, akan terikat janji dengan sang cukong. Seperti masuk jebakan maut, si kepala daerah tak akan mampu lagi menolak permintaan sang cukong.

Berita Terkait : Ayo Cepat Bagi Masker

Oleh karena itu, menjelang Pilkada Serentak 2020, kita berharap KPK dan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) mengawasi ketat para calon kepala daerah. Begitu ada tandatan da penyuapan atau politik uang, KPK dan Bawaslu bisa langsung bertindak.
 Selanjutnya