Dark/Light Mode

Jangan Ada Nada Sumbang

Minggu, 13 Juni 2021 07:09 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Mestinya di masa pandemi ini, ada berita yang menyejukkan. Tapi tidak. Berita-berita yang muncul justru banyak yang “panas”. Bikin gerah.

Ada kasus KPK, anggaran alutsista yang sangat fantastis, utang negara dan swasta yang terus melambung, juga Covid-19 yang kembali menaik. Terakhir, ada berita “pajak sembako”.

Berita Terkait : Awas, Klaster Nobar!

Di masa sulit ini, semua sektor berupaya maksimal. Kesehatan harus berlari, bidang ekonomi, juga harus bergegas. Dengan cara apa pun. Tak boleh kalah cepat.

Ini baik-baik saja. Bagus. Tak ada masalah. Tapi, itu semua mesti diorkestrasi dengan baik. Jangan semua alat musik distel kencang-kencang. Bisa kacau.

Berita Terkait : Korea, Saus Dan Rendang

Kasus “pajak sembako” misalnya, ini sangat peka. Apalagi di tengah krisis seperti sekarang. Perlu ekstra hati-hati. Sembako; beras, gula, sayur, garam, telur, daging dan sebagainya, ibarat isu SARA dalam bentuk fisik. Sensitif.

Di dunia yang serba digital dan serba lekas ini, segala sesuatu begitu mudah merambat dan meledak. Istilah “pajak sembako” misalnya, ini sebenarnya bukan istilah resmi, tapi itulah yang mencuat. Bahkan, anggota DPR, yang oposisi maupun koalisi pemerintah, satu suara: mengkritik “pajak sembako”.
 Selanjutnya