Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pelajaran Hebat Dari Akidi

Selasa, 27 Juli 2021 07:00 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Siapa Akidi Tio? Dicari di “Daftar Orang Terkaya Indonesia” versi majalah apa pun, tidak ada. Di Google, juga tidak banyak infonya. Bahkan di kalangan pengusaha keturunan Tionghoa, pun minim informasi.

Meski minim publikasi dan info, sumbangan almarhum Akidi, dan keluarga besarnya, sangatlah maksi. Jumbo. Besar sekali. Mungkin yang terbesar, yang terekspos, sependek yang diketahui publik.

Dua triliun rupiah. Atau dua ribu miliar rupiah. Sebesar itulah sumbangan atau hibah yang diberikan Akidi dan keluarga besarnya. Sumbangan itu untuk penanggulangan Covid-19 dan dampaknya, di Palembang, Sumatera Selatan.

Sumbangan diserahkan oleh perwakilan keluarga didampingi dokter pribadi Akidi Tio, Prof dr Hardi Darmawan, kemarin. Serah terima dilakukan di Mapolda Sumsel.

Berita Terkait : Obat, Jangan Nunggu Ponari

Akidi adalah pengusaha asal Langsa, Aceh Timur yang pernah bermukim di Palembang. Dia bergerak di bidang pembangunan. Kontraktor besar. Anaknya tujuh. Sebagian besar tinggal di Jakarta. Semuanya jadi pengusaha sukses.

Selama ini, Akidi dan keluarganya banyak menyumbang, apalagi di masa pandemi Covid-19 ini. Hanya saja, mereka menghindari publikasi.

“Kalau kamu berhasil dan sukses, jangan lupakan orang miskin,” begitu pesan Akidi kepada anak, cucu dan cicitnya, seperti diungkapkan dr Hardi.

Dokter Hardi sudah lama menjadi dokter keluarga Akidi. Sampai ke anak, mantu, cucu dan cicit, jadi pasiennya. Sudah 48 tahun. “Kalau dengan Pak Akidi, 36 tahun,” kata dr Hardi yang selama 50 tahun mengabdi di RS Charitas, di antaranya 19 tahun sebagai direktur utama RS.

Berita Terkait : Perbaiki Komunikasi!

Suatu hari, dr Hardi kaget ketika menerima telepon dari salah seorang anggota keluarga Akidi. Dia kira seperti biasa: berobat. Konsultasi. Ternyata ada urusan lain. Mau nyumbang. Dokter Hardi terkejut bukan main setelah mendengar jumlahnya yang sangat besar: dua triliun.

Sumbangan ini mengingatkan kita kepada sumbangan rakyat Aceh untuk membeli pesawat komersial pertama Indonesia. Nilainya saat itu setara 20 kg emas.

Sumbangan monumental itu diterima Presiden Soekarno. Tahun 1948. Di Hotel Kutaraja, Aceh. Uang itu dibelikan pesawat yang menjadi pesawat angkut pertama Indonesia. Namanya Dakota RI-001 Seulawah. Seulawah artinya Gunung Emas. Pesawat itulah yang menjadi cikal bakal Garuda Indonesia.

Sekarang, ada Akidi. Orang Aceh. Tinggal di Palembang. Keluarganya banyak di Jakarta. Kita berharap, kebaikan ini menular, walau kita yakin, banyak orang kaya atau super kaya yang sudah menyumbang. Di masa-masa sulit ini, solidaritas sangat dibutuhkan. Lebih ekstra.

Berita Terkait : "Ikatan Cinta" Dengan Rakyat

Langkah Akidi dan keluarga besarnya, selain menginspirasi, juga menjadi pukulan telak bagi para pejabat yang masih tega mencari celah korupsi di tengah pandemi. Pejabat yang berbisnis dengan negara di tengah krisis.

Akidi telah memberi pelajaran luar biasa. Walau tanpa publikasi dan sorot kamera, namanya akan tetap dikenang. Harum. Kebaikannya mengalir.

Dicari: “akidi-akidi” lainnya.