Dewan Pers

Dark/Light Mode

Akuisisi 6 Ribu Menara Telkomsel, Mitratel Jadi Tower Provider Terbesar Di Asia Tenggara

Rabu, 3 Agustus 2022 12:52 WIB
Foto: Irma Yulia/Rakyat Merdeka
Foto: Irma Yulia/Rakyat Merdeka

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk kini menjadi perusahaan penyedia menara telekomunikasi (tower provider) terbesar di Asia Tenggara, usai mengakuisisi 6.000 unit menara telekomunikasi milik PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).

Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan,  jumlah tower yang dimilikinya total mencapai 34.800.

“Mitratel sekarang ini menjadi tower company terbesar secara kepemilikan jumlah tower di kawasan Asia Tenggara, kepemilikan kami menjadi 34.800, yang nomor duanya jauh di bawah kami," ujarnya, dalam Media Gathering di Jakarta, Selasa (2/8) malam.

Theodorus yang akrab disapa Teddy menjelaskan, proses akuisisi 6.000 menara tersebut selesai dilakukan pada 29 Juli 2022 dan akan disewakan kembali kepada Telkomsel.

Menurutnya, kepemilikan menara ini akan menjadi modal utama Mitratel untuk market expansion dan mendukung akselerasi implementasi jaringan 5G di Indonesia dan menambah alat produksi Mitratel.

Berita Terkait : Erick: Investasi Korsel Mantapkan Krakatau Steel Jadi Pemain Baja Terbesar Di Asia Tenggara

Untuk itu, konektivitas yang diberikan kepada para tenant nantinya berupa akses fiber (dark fiber, capacity leased dan hybrid) dan akses non fiber (satelit).

"Inilah keunggulan Mitratel yang memberikan kemudahan kepada seluruh operator untuk mengembangkan jaringan telekomunikasi di seluruh Indonesia, khususnya di luar Jawa," ujarnya. 

 

Sementara itu, Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama mengaku, dengan dilakukannya pengambilalihan 6.000 menara ini memberikan potensi tambahan pendapatan backlog, sebesar Rp 9,6 triliun hingga sepuluh tahun ke depan.

Bila dihitung dari rasio EV (enterprise value) to EBITDA (earning earning before interest tax, depreciation, and amortization), kata dia, maka nilai satu menara setara dengan Rp 1,59 miliar. 

Selain itu, kepemilikan jumlah tower ini juga menunjukkan adanya pertumbuhan yang sangat signifikan pada kontrak-kontrak Mitratel sejak tahun 2018 sampai saat ini, yaitu ada di CAGR (Compounded annual growth rate) 26 persen.

Berita Terkait : 11 Tahun Raih Peringkat 1, TP Link Komit Hadirkan Produk Unggulan Di 170 Negara

"Kami additional new contract hampir Rp 9,6 triliun untuk 10 tahun ke depan. Jika dijumlahkan dengan kontrak eksisting, nilainya mencapai Rp 41,72 triliun," ujarnya.

Semula, kata dia, pihaknya menargetkan penambahan 6.000 tower dilakukan secara bertahap dengan jumlah 3.000 tower pada 2022 dan 3.000 lagi pada 2023, namun target tersebut berhasil diselesaikan dalam 1 tahun.

Oleh karenanya, ia melakukan penyesuaian dari berbagai sisi, seperti revenue yang awalnya naik 10-11 persen pada akhir tahun diubah menjadi 12 persen.

"Kenaikan EBTIDA juga diubah menjadi 15 persen dari sebelumnya 13 persen. Begitu juga capex (capital expenditure) meningkat menjadi Rp 14 triliun," jelas Hendra.

Hendra menambahkan, akuisisi kali ini juga berbeda dengan akuisisi sebelumnya yang lebih banyak terdiri dari menara-menara makro. Sebab, menara yang diakuisisi saat ini sebanyak 60 persennya berjenis mikro atau dikenal dengan istilah pole tower.

Berita Terkait : Dipilih Ribuan Warganet, Firli Tak Mau Terganggu Isu Capres

 "Menara jenis ini memiliki potensi yang sangat besar, terutama untuk 5G karena tingginya berkisar 10-15 meter," ucap Hendra.

Di sisi lain, akuisisi tersebut juga menurunkan tenancy ratio perusahaan berkode saham MTEL itu menjadi sebesar 1,42x, dari 1,52x per semester 1 2022.  Pasalnya, semua menara yang diakuisisi hanya memiliki tenancy ratio 1x. Sedangkan dari segi geografis, menara-menara ini berada di Jawa sebesar 43 persen dan di luar Jawa 57 persen.

"Total jumlah penyewa dari 6.000 menara itu sebanyak 6.014 tenant. Lokasinya, sebanyak 58 persen berada di daerah perkotaan, 29 persen di daerah sub-urban dan 13 persen di pedesaan," pungkas Hendra. ■