Dark/Light Mode

Dedikasi Perwira Energi Dari Tengah Laut

Dari Anjungan Tua Attaka, Jaga Migas Tetap Menyala

Selasa, 28 Juli 2026 06:40 WIB
Para pegawai PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) melintasi bridge antar anjungan di Attaka Field, Kalimantan Timur. Di balik senyum mereka, tersimpan tanggung jawab menjaga keselamatan, keandalan operasi, dan pasokan energi yang mengalir ke seluruh Indonesia. (Foto: Dok. PHKT)
Para pegawai PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) melintasi bridge antar anjungan di Attaka Field, Kalimantan Timur. Di balik senyum mereka, tersimpan tanggung jawab menjaga keselamatan, keandalan operasi, dan pasokan energi yang mengalir ke seluruh Indonesia. (Foto: Dok. PHKT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah Laut Kalimantan Timur, Anjungan Attaka berdiri melawan waktu. Puluhan tahun diterpa gelombang, semburan air laut, dan terik matahari, anjungan itu tetap menjadi saksi perjalanan energi Indonesia.

Dari tempat yang jauh dari keramaian inilah minyak dan gas (Migas) terus mengalir, menghidupkan rumah-rumah, menggerakkan industri, dan menjaga denyut perekonomian negeri. 

Di balik kokohnya baja Attaka, ada manusia-manusia yang memilih mengabdi dalam sunyi. Salah satunya Hendra Murdani, Superintendent Production Attaka PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT). 

Baginya, bekerja di laut bukan sekadar menjalankan profesi. Melainkan menjaga kepercayaan, agar lapangan migas yang telah memasuki usia senja tetap memberi manfaat bagi bangsa. 

“Ada rasa bangga atas amanah yang ditugaskan kepada saya saat ini. Saya bekerja di Attaka Field, salah satu lapangan migas tertua di Kalimantan Timur. Banyak orang mungkin melihat produksinya tidak sebesar dulu. Tetapi bagi kami, setiap barel minyak dan setiap Million Standard Cubic Feet/MMSCF gas yang masih dapat diproduksikan adalah hasil dari kerja keras, dedikasi, dan inovasi seluruh tim,” kata Hendra kepada Rakyat Merdeka, Rabu (22/7/2026). 

Baca juga : Pemprov Tolong Kebut Perbaikan Jalan Rusak

Kalimat itu lahir dari pengalaman yang tak sederhana. Di Attaka, tantangan bukan hanya ombak tinggi atau berpisah dengan keluarga selama berminggu-minggu. Usia fasilitas yang telah beroperasi puluhan tahun menuntut ketelitian, disiplin, dan keberanian mengambil keputusan yang selalu menempatkan keselamatan sebagai prioritas. 

“Tidak ada keberhasilan produksi yang layak dirayakan jika harus mengorbankan keselamatan,” kata Hendra. 

Prinsip itu membentuk budaya kerja di Attaka. Digital monitoring, analisis data, riskbased inspection, hingga predictive maintenance menjadi bagian dari keseharian untuk memastikan setiap peralatan bekerja optimal. Di lapangan yang telah matang, inovasi bukan lagi pilihan. Melainkan cara bertahan, agar energi tetap tersedia tanpa mengabaikan keselamatan maupun lingkungan. 

Hendra mengaku rasa lelah seolah terbayar ketika membayangkan energi yang diproduksi dari tengah laut memberi manfaat bagi jutaan orang. 

“Ketika saya melihat penerangan kota tetap menyala, industri tetap berjalan, dan masyarakat dapat beraktivitas dengan baik. Ada rasa haru dan bangga karena sebagian sumber energi itu berasal dari perjuangan kami di tengah laut,” ungkapnya. 

Baca juga : Pirlo Tersangkut Sponsor Judi Rusia, Italia Terpaksa Pilih “Plan D”

Pandangan itu sejalan dengan arah transformasi PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI). Manajer Riset Dekarbonisasi Sektoral Institute for Essential Services Reform (IESR) Dr. Farid Wijaya menilai, industri hulu migas saat ini dituntut tidak hanya menjaga ketahanan energi, tetapi juga mempercepat dekarbonisasi. 

Menurutnya, langkah PHI menekan emisi melalui efisiensi energi berbasis digital, pengurangan routine flaring, pengendalian kebocoran metana (Leak Detection and Repair/LDAR), pemanfaatan biodiesel B35- B40, dan energi baru terbarukan menunjukkan bahwa produksi migas dapat berjalan selaras dengan target Net Zero Emissions 2050. 

“Sepanjang 2024, PHI berhasil menurunkan emisi sebesar 222,87 ribu ton CO2eq, atau berkontribusi 18,7 persen terhadap total reduksi emisi Subholding Upstream Pertamina,” kata Farid kepada Rakyat Merdeka, Jumat (17/2026). 

Komitmen tersebut berjalan beriringan dengan kinerja operasional. Senior Manager Relations PHI Handri Ramdhani me­nyebutkan, pada triwulan I-2026 perusahaan membukukan realisasi produksi minyak lebih dari 120 persen di atas target. Dan produksi gas sekitar 104 persen di atas target. Angka-angka itu menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak mengurangi produktivitas, tetapi justru memperkuatnya. 

Bagi Hendra, semua capaian itu bermuara pada satu keyakinan. “Bagi kami, setiap barel yang masih dapat dipertahankan bukan sekadar angka produksi. Tetapi amanah untuk menjaga ketahanan energi Indonesia. Kami akan terus mengabdi memberikan yang terbaik bagi negeri.” 

Baca juga : Dari Tokyo Ke Changzhou, Fajar/Fikri Hajar Peringkat 1 Dunia

Menjelang senja, lampu-lampu di Anjungan Attaka kembali menyala. Cahayanya mungkin tak terlihat dari daratan, tetapi mampu menjangkau seluruh Indonesia. 

Dari anjungan tua di lepas pantai Kalimantan itu, energi terus mengalir bersama dedikasi para pekerja yang percaya bahwa masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh sumber daya alam. Melainkan oleh manusia yang merawatnya dengan integritas, inovasi, dan pengabdian. [Fazry]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.