Dewan Pers

Dark/Light Mode

Cari Solusi Ancaman Krisis Pangan, Moeldoko Ketemu Pakar Pertanian

Rabu, 20 Juli 2022 13:22 WIB
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menerima kedatangan pakar pertanian Universitas Padjadjaran (UNPAD) Prof Tualar Simarmata. (Foto: Kantor Staf Presiden)
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menerima kedatangan pakar pertanian Universitas Padjadjaran (UNPAD) Prof Tualar Simarmata. (Foto: Kantor Staf Presiden)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menerima kedatangan pakar pertanian Universitas Padjadjaran (UNPAD) Prof. Tualar Simarmata. Pertemuan ini, untuk mencari solusi atas ancaman krisis pangan dunia. 

Pada kesempatan itu, Tualar yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian UNPAD memperkenalkan inovasi Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Teknologi (IPAT BO). Ia mengatakan, IPAT BO merupakan inovasi teknologi produksi padi terpadu melalui restorasi kesuburan lahan sawah dengan menggunakan teknik tanam kembar (twin seedling) atau juga dikenal dengan teknik jejer manten. 

Berita Terkait : Jokowi, Sedia Payung Sebelum Hujan

Dengan pemanfaatan teknologi itu, lanjut dia, akan mengurangi penggunaan bibit, menghemat penggunaan air, dan memanfaatkan pupuk berbasis organik, yaitu menggunakan kompos jerami sebagai sumber nutrisi mikroba tanah. 

“Teknologi ini pernah kami terapkan di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan, bekerja sama dengan TNI dalam pendampingannya, dan berhasil menghasilkan 11-13 ton per Hektar," katanya. 

Berita Terkait : Prof Didik: Pemerintah Kudu Perkuat Ketahanan Ekonomi

Menanggapi hal itu, Moeldoko menyampaikan apresiasinya atas inovasi IPAT BO. Ia juga menekankan pentingnya berbagai terobosan dan inovasi di sektor teknologi pertanian, sehingga dapat mengoptimalisasikan hasil produksi pertanian. Terlebih, dalam menghadapi ancaman krisis pangan (food security) dan mewujudkan ketahanan serta kemandirian pangan nasional. 

"Yang harus dipikirkan adalah bagaimana diwaktu yang akan datang kegiatan pertanian dapat semakin mudah dilakukan, menghasilkan produksi yang melimpah, dan dengan ongkos produksi yang murah bagi para petani," tuturnya. 

Berita Terkait : Partai Garuda: Ancaman Blokir Whatsapp Cs Jangan Hanya Gertak Sambal

Moeldoko yang juga Ketua Umum HKTI menyebut, saat ini angka rata-rata hasil produktivitas padi baru mencapai 5-6 ton per hektar, dan perlu ditingkatkan produktivitasnya menjadi 7-8 ton per hektar. Untuk itu, diperlukan inovasi tepat guna agar produktivitas di sektor pertanian bisa lebih ditingkatkan. 

"Kehadiran inovasi seperti IPAT BO sangat dibutuhkan dan perlu untuk diperkenalkan lebih luas kepada para petani kita. Inisiatif seperti ini perlu untuk diteruskan, sehingga kita mampu berdaulat pangan,” tandas Moeldoko.