Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Eksklusif Dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto
Dukung Program Prabowo, Gercep Garap Quick Wins
Jumat, 8 November 2024 08:10 WIB
Sebelumnya
Sekitar 20-30 persen subsidi BBM dan listrik dengan angka kurang lebih Rp 100 triliun, disebut kurang tepat sasaran. Bagaimana respons pemerintah terkait hal tersebut?
Menurut hasil kajian pemerintah, subsidi energi dan listrik mencapai sekitar 80 persen. Untuk BBM, subsidinya bahkan dinikmati hingga desil 10 (kelompok 10 persen keluarga yang memiliki kesejahteraan paling tinggi). Sedangkan subsidi listrik, diberikan hingga batas daya 5.500 VA. Menjangkau desil 8 (kelompok masyarakat dengan pengeluaran per kapita di atas Rp 1,1 juta per bulan).
Karena itu, pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat yang paling membutuhkan. Saat ini, kami sedang melakukan kajian menyeluruh terkait kebijakan tersebut. Termasuk, dampaknya terhadap inflasi dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Laporan BPS pada September 2024 menyebutkan, kelas menengah di Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam kurun waktu lima tahun. Dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024. Apa yang dilakukan pemerintah untuk membangkitkan ekonomi kelas menengah?
Baca juga : Pilpres Amerika Cepat Rukunnya
Dalam upaya menopang kelas menengah, pemerintah sudah memberikan insentif berupa pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk sektor perumahan dan otomotif atau PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
Insentif ini kami berikan, karena berdasarkan hasil survei, pengeluaran tertinggi kelas menengah yang berkisar antara Rp 900 ribu hingga Rp 9 juta adalah untuk perumahan dan mobilitas.
Indonesia kini sudah mendaftar untuk bergabung dengan BRICS, forum ekonomi internasional yang diinisiasi Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Apa kabarnya dengan keanggotaan di OECD (Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan)?
Sesuai arahan presiden, Indonesia adalah negara non-blok. Seribu teman kurang, satu musuh terlalu banyak. Ini diimplementasikan dengan masuk ke dalam blok-blok perdagangan, supaya kita bisa membuka akses produk-produk Indonesia di luar negeri. Seluruh prosesnya, diharapkan bisa dipercepat.
Baca juga : BG Minta Kepala Daerah Perkuat Stabilitas Polkam
Termasuk, Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement/IEU-CEPA). Untuk IEU-CEPA, Presiden menetapkan, pada first quarter tahun 2025 sudah selesai dan bisa ditandatangani. Begitu juga dengan Perundingan Perdagangan Indonesia – Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Kalau bisa, first quarter tahun depan juga bisa selesai.
Untuk BRICS, proses bergabungnya masih panjang. Tapi untuk Eurasia, sudah negosiasi dan hampir final. Ini kan sebetulnya embrio. Dengan China, kita sudah punya CEPA. Rusia nanti dengan Eurasia, dan OECD masih berproses.
Dengan Amerika, kita juga sudah ikut kerja sama ekonomi di bawah kerangka Indo-Pacific Economic Framework for Prosperity (IPEF). Selain itu, kita juga sudah memulai proses aksesi ke Comprehensive and Progressive Agreement to Trans Pacific Partnership (CPTPP).
Terkait situasi global saat ini, bagaimana dampak eskalasi di Timur Tengah terhadap ekonomi nasional?
Baca juga : Hapus Piutang UMKM, Prabowo Pro Wong Cilik
Untuk dampak eskalasi, kita perlu melihat perkembangan situasi lebih lanjut. Namun, yang jelas, Presiden Prabowo akan melakukan kunjungan ke China pada minggu ini, yang akan dilanjutkan ke Amerika Serikat (AS) sebelum menghadiri pertemuan APEC di Peru dan G20 di Brazil. Kunjungan ini menjadi simbol penting dari peran Indonesia yang strategis. Sebagai middle power yang berpengaruh, Indonesia memainkan peran yang signifikan dalam menjaga stabilitas di kawasan Indo-Pasifik, terutama dalam hubungannya dengan dua kekuatan besar, yaitu China dan AS.
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Jumat, 8 November 2024 dengan judul Eksklusif Dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Dukung Program Prabowo, Gercep Garap Quick Wins
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya