Dark/Light Mode

Menperin Pede 2021 Ekonomi Tumbuh 5,5 Persen

Rabu, 30 Desember 2020 17:50 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Ist)
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita percaya diri pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021 bakal berada di angka 5,5 persen. Optimisme ini, kata Agus, tak lepas dari seluruh rangkaian strategi dan kebijakan yang sudah dipersiapkan oleh pemerintah untuk tahun depan.

"Dengan berbagai kombinasi kebijakan dan peluang yang kita manfaatkan secara optimal, diharapkan ekonomi Indonesia dapat tumbuh di kisaran 4,5 sampai 5,5 persen di tahun 2021," katanya dalam diskusi virtual Forum Merdeka Barat 9 bertajuk Menjaga Laju Keberlangsungan Industri di Tengah Pandemi, Rabu (30/12).

Mantan Menteri Sosial ini menjelaskan, penanganan Covid-19 melalui vaksinasi dan hadirnya UU Cipta Kerja menjadi pendorong utama bakal melajunya ekonomi Indonesia di tahun depan.

Berita Terkait : 2.014 IKM Lolos Seleksi Program E-Smart Kemenperin

"Penanganan Covid-19 dan UU Cipta Kerja akan mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia di tengah pandemi," tegasnya.

Agus melihat perubahan positif sebenarnya sudah bisa dilihat dari beberapa industri yang justru berjaya di masa pandemi. Ia menyebutkan industri mulai dari farmasi hingga makanan dan minuman kebal terhadap ancaman Corona.

"Sektor industri yang mengalami pertumbuhan positif di antaranya industri kimia, farmasi dan obat tradisional yang mengalami pertumbuhan sebesar hampir 15 persen, industri logam dasar sebesar 5,2 persen, industri pengolahan lainnya sebesar 1,5 persen, dan industri makanan dan minuman yang tumbuh sebesar 0,60 persen," paparnya. 

Berita Terkait : Soal Insentif Mobil Listrik, Menperin: Kita Lebih Baik Dari Tetangga Sebelah

Bahkan, kata Agus, sektor industri tersebut masih mampu berkontribusi besar terhadap ekspor. Adapun, industri makanan dan minuman 27,59 miliar dolar AS, logam dasar 20,82 miliar dolar AS, lalu kimia, farmasi, dan obat tradisional 11,85 miliar dolar AS.

"Nilai ekspor sektor industri pada kurun waktu Januari sampai November 2020 sebesar 118,23 miliar dolar AS, ini meningkat sedikit dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019 dan menghasilkan neraca surplus sebesar 13,12 miliar dolar AS," ungkapnya.

Sementara untuk investasi, Agus menilai, di sektor-sekror industri tersebut masih menggeliat. Nilai investasi terbesar dicatatkan oleh industri logam dasar Rp 69,79 triliun, disusul industri makanan dan minuman Rp 40,53 triliun, industri kimia dan farmasi Rp 35,63 triliun.

Berita Terkait : Menperin Bidik Investasi Manufaktur Tahun Depan Rp 323 T

"Adapun nilai investasi di sektor industri pada periode Januari sampai September 2020, sebesar Rp 201,9 triliun, atau naik 37 persen dibandingkan tahun 2019 yang dicatat sebesar Rp 147,3 triliun," ucapnya. [KPJ]