Dark/Light Mode

`Benci Produk Asing` Dinyinyirin

Jokowi Pake Jurus Gus Dur

Sabtu, 6 Maret 2021 07:25 WIB
Presiden Jokowi membuka Rapat Kerja Nasional HIPMI, di Istana Bogor, Jawa Barat, kemarin. (Foto: Setpres)
Presiden Jokowi membuka Rapat Kerja Nasional HIPMI, di Istana Bogor, Jawa Barat, kemarin. (Foto: Setpres)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi heran, seruannya untuk membenci produk asing malah dinyinyirin banyak pihak. Padahal, seruan ini sangat positif. Tapi, Jokowi tidak mau ambil pusing. Meminjam jurus Gus Dur, Jokowi bilang: gitu aja kok rame.

Kalimat itu terucap saat Jokowi membuka Rapat Kerja Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), di Istana Bogor, Jawa Barat, kemarin. Jokowi menganggap, tidak ada yang salah dari seruannya. Meski meminta benci produk asing, nyatanya Indonesia tidak menerapkan sistem proteksionisme.

“Sekali lagi, saya tegaskan, kita ini menganut keterbukaan ekonomi. Nggak ada yang kita tutup-tutup. Saya tegaskan, kita juga bukan bangsa yang menyukai proteksionisme, ndak,” tegas Jokowi.

Berita Terkait : Jokowi Benci Tapi Butuh

Menurutnya, proteksionisme tidak memberi hasil yang baik bagi ekonomi nasional. Makanya, Indonesia memilih terbuka. Hanya saja, dia tidak ingin Indonesia menjadi korban perdagangan yang tidak adil dari pasar internasional.

Makanya, dia heran, kenapa seruan soal benci produk impor menjadi polemik. "Masak nggak boleh kita nggak suka. Kan boleh saja nggak suka produk asing. Gitu saja rame. Saya ngomong benci produk asing, itu saja rame. Boleh kita tidak suka produk asing," cetusnya.

Untuk industri lokal, Jokowi meminta meningkatkan kualitas. Selain itu, harga barangnya harus lebih kompetitif, pengemasannya baik, hingga desain lebih menarik. Agar sesuai dengan tren kekinian.

Berita Terkait : Keteladanan Membenci Produk Asing

Saking seriusnya mengerek produk lokal, Jokowi juga meminta agar kementerian/lembaga dan perusahaan pelat merah memperbesar tingkat komponen dalam negeri (TKDN). "Jangan sampai proyek-proyek pemerintah, proyeknya BUMN, masih memakai barang impor. Kalau itu bisa dikunci, bisa menaikkan permintaan produk dalam negeri yang tidak kecil,” pesannya.

Jika Jokowi heran, Menteri Perdagangan M Lutfi justru merasa bersalah. Sebab, dia merasa, imbauan Jokowi itu keluar akibat laporannya, yang disampaikan sebelum Rapat Kerja (Raker) Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kamis (4/3), bahwa ada praktik yang tidak adil dalam perdagangan digital (e-commerce). Atas hal itu, Lutfi meminta imbauan Jokowi itu tidak dibesar-besarkan.

Eks Dubes Indonesia untuk Amerika Serikat ini menyampaikan, pelaku e-commerce yang menjual produk asing lintas negara bisa mengancam eksistensi pengusaha lokal. "Saya ingin luruskan. Ini laporan saya untuk meminta beliau buka Raker Perdagangan dua hari lalu, karena kita kehilangan UMKM karena masalah tersebut," terangnya.
 Selanjutnya