Dark/Light Mode

Penolak PPKM Positif Corona

Demo Berujung Petaka Terjadi Di Kota Kembang

Jumat, 23 Juli 2021 07:15 WIB
Aksi penolakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Bandung, Jawa Barat, Rabu (21/7/2021). (Foto: Liputan6.com)
Aksi penolakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Bandung, Jawa Barat, Rabu (21/7/2021). (Foto: Liputan6.com)

RM.id  Rakyat Merdeka - Aksi penolakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Bandung, Jawa Barat, menimbulkan petaka. Tidak hanya rusuh, kemudian dibubarkan, tapi peserta aksinya juga ada yang positif Corona. Hal ini bisa membuat klaster baru yang bikin rumah sakit semakin penuh.

Aksi itu digelar ratusan orang, di depan Balai Kota, Jalan Wastukencana, Bandung, Rabu (21/7). Massa terdiri dari mahasiswa, pelajar, ojek online, dan pedagang kaki lima (PKL). Aksinya juga mengabaikan protokol kesehatan. Mereka berdesak-desakan, berkerumun, dan banyak yang tidak mengenakan masker.

Berita Terkait : Perpanjangan PPKM Darurat Mesti Dioptimalkan

Sambil aksi, mereka membentangkan spanduk dan poster berisi protes PPKM Darurat. Seperti “Bandung sekarat, Wali Kota ngapain?”, “PPKM membuat rakyat melarat”, “PPKM= Pelan-pelan Kita Mati”.

Setelah menggelar orasi, massa melakukan long march ke Gedung Sate. Saat tiba di Kawasan Perempatan Jalan Dago-Sulanjana, massa yang tak terkendali menutup jalan. Polisi pun bertindak dengan membubarkan massa. Massa yang bikin onar dan melawan, diamankan.

Berita Terkait : Deklarasi Gotong Royong Untungkan Pekerja Hindari Dampak Covid-19

Ada sekitar 150 orang yang diamankan. Pihak Polrestabes Bandung kemudian melakukan tes secara acak ke anggota yang diamankan itu. Hasilnya, 7 orang terkonfirmasi positif Corona. Mereka kemudian dibawa ke RSUD Kota Bandung dengan menggunakan satu unit mobil ambulans untuk penanganan lebih lanjut.

"Ini belum semuanya dites. Mereka melakukan kerumunan yang rawan seolah tidak ada Covid-19 dan tidak memakai masker," kata Kapolrestabes Bandung, Kombes Ulung Sampurna Jaya.

Berita Terkait : PPKM Darurat Diperpanjang, Pengusaha Pusing

Dari hasil penyelidikan polisi, aksi ini berawal dari ajakan di media sosial kepada masyarakat. Khususnya mahasiswa, pengendara ojol, dan PKL. Usai berorasi, massa terpecah antara mahasiswa, PKL, dan ojol. PKL dan ojol membubarkan diri, sedangkan ratusan mahasiswa dan pelajar, yang mayoritas menggunakan baju berwarna hitam, bergerak menuju Gedung Sate dan bertindak anarkis.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil bingung dengan adanya aksi ini. Sebab, jika alasannya bansos, Pemerintah Pusat telah menyiapkan anggaran hingga Rp 30 triliun.
 Selanjutnya