Dark/Light Mode

Untuk Mengkonter Islamofobia

Pentingnya Promosi Islam Moderat Khas Indonesia

Senin, 14 September 2020 06:57 WIB
Demo menentang Islamofobia di Inggris.(AP Photo/Matt Dunham)
Demo menentang Islamofobia di Inggris.(AP Photo/Matt Dunham)

 Sebelumnya 
“Soal demokrasi dan HAM, Islam mampu mengakomodasikannya sebagaimana dipraktikkan Indonesia,” jelasnya.

Sedangkan pengamat politik Muhammad Najib mengatakan, Islamofobia di Eropa dalam 20 tahun semakin menunjukkan gejala negatif. Seiring pertumbuhan media sosial (medsos) yang berisi konten provokatif dan menjangkau setiap lapisan warga Benua Biru.

Medsos membuat masyarakat menengah ke bawah dan golongan atas sama dalam mendapatkan informasi. Tapi terkadang tanpa batas. Sehingga bisa terprovokasi.

Medsos sering menjadi media baru untuk menuangkan berbagai ide-ide.Termasuk menebar kebencian terhadap Islam. Salah satu contohnya, kejadian penistaan Islam di negara-negara Skandinavia tidak terlepas dari peran medsos. 

Baca juga : PLN Selesaikan Pembangunan Jaringan Transmisi Di Gerbang Timur Indonesia

Di banyak negara termasuk di Eropa, sejumlah politisi juga memperkuat narasi Islamofobia demi meraih jabatan dan atau simpati. Dengan tujuan meraih dukungan massa.

Hal serupa juga terjadi di Amerika Serikat (AS). Presiden Donald Trump saat berkampanye memanfaatkan isu supremasi kulit putih. Isu-su identitas dikembang- kan guna meraih simpati publik AS. Termasuk mendiskreditkan Islam. Begitu juga dengan rivalnya, Joe Biden yang menunjukkan penerimaan terhadap kehadiran warga Muslim.

Kemudian, Perdana Menteri Narendra Modi di India juga melakukan hal serupa yang ujung- nya adalah Islamofobia. Begitu juga di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga memanfaatkan isu Islamofobia dalam kampanye dan kebijakannya. Bahkan termasuk anti Arab.

Fenomena Islamofobia, sambung Najib, terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang sejatinya Islam. Masyarakat dunia lebih banyak mengenal Islam yang radikal dan Timur Tengah sentris yang anti-demokrasi.

Baca juga : Pilkada Di Tengah Pandemi, Perludem Ingatkan Pentingnya Mitigasi Penularan Corona

Padahal, kata Najib, Indonesia adalah negara yang mampu menyandingkan Islam dan demokrasi. Untuk itu, dia berpesan kepada Muslim agar terus dapat memajukan dirinya. Terutama menguasai ilmu pengetahuan. Guna mengkonter sejumlah isu negatif tentang Islam.

Dengan begitu, kata dia, golongan Islam yang radikal akan kalah populer. “Sehingga Islam memiliki citra positif sebagaimana aslinya,” tuturnya.

Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menambahkan, Islam di Indonesia memang perlu dipromosikan ke dunia. Karena di Indonesia sudah terbukti, Islam bisa bersanding dengan demokrasi. Hanya saja, agen-agen penyampai Islam moderat seperti dari Indonesia masih belum banyak bermunculan.

Dia mencontohkan, kini ada Syamsi Ali yang menjadi ulama Indonesia di AS. Syamsi mampu menunjukkan Islam yang moderat antiradikalisme di Negeri Paman Sam. Tokoh-tokoh Islam seperti Syamsi belum banyak. Sehingga perlu ada pengkaderan ulama moderat yang berpengaruh. Dan, tugas itu tidak mudah.

Baca juga : Peran Penting Jurnalis Perkuat Hubungan Indonesia-Pakistan

“Tapi jika berhasil bertumbuh, maka Islam yang antiradikalisme tentu akan menjadi citra umum di masyarakat global,” tandas Din. [PYB]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.