Dark/Light Mode

Presiden Seumur Hidup

Cukup Di China & Rusia Saja, Di Sini Sih Jangan

Kamis, 8 April 2021 07:57 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping. (Foto: AFP)
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping. (Foto: AFP)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ini berita politik yang terjadi jauh di belahan bumi sana, namun sedikit mirip dengan isu di Tanah Air, beberapa waktu lalu. Yaitu, soal masa jabatan presiden. Rusia dan China menetapkan presiden mereka akan berkuasa seumur hidup. Biarkan saja mereka begitu, di sini sih jangan sampai begitu ya.

Di Rusia, Presiden Vladimir Putin telah menandatangani Undang-Undang yang memberinya hak untuk tetap berkuasa hingga 2036. Aturan tersebut memungkinkan dirinya mencalonkan lagi untuk dua masa jabatan berikutnya setelah masa tugasnya berakhir pada 2024.

Seperti dikutip Dailymail, Rabu (7/4), jika terpilih untuk dua periode berikutnya, Putin akan menjadi presiden hingga 2036. Artinya, dia akan menjabat selama 24 tahun, setelah terpilih untuk pertama kali pada 2012. 

Baca Juga : Luhut Kepedean

Sedangkan The Moscow Times menyebut, ketentuan itu akan memperpanjang masa jabatan Putin selama 20 tahun ketika usianya mencapai 83 tahun.

Di China, Presiden China Xi Jinping sudah lebih dulu melakukannya. Xi Jinping dapat berkuasa seumur hidup setelah Badan Legislatif China secara resmi menghapuskan batas masa jabatan presiden di Maret 2018. Padahal, dalam aturan sebelumnya, presiden hanya maksimal menjabat dua periode, masing-masing lima tahun.

Saat itu, hanya dua delegasi yang menentang perubahan tersebut. Sementara 2.964 anggota parlemen setuju. Dengan keputusan itu, Xi Jinping bisa kembali menjadi presiden meski pada 2023 nanti masa jabatannya untuk periode kedua selesai.

Baca Juga : SIM Keliling Polda Metro, Hari Ini Buka Pukul 8 Pagi

Pengamat Politik Emrus Sihombing melihat, virus berkuasa seumur hidup tengah menjangkit pemimpin dunia. Menurutnya, banyak penguasa yang terlena dengan kekuasaannya, sehingga nafsu untuk melanjutkan kekuasaan muncul. 

“Di politik itu ada tiga, bagaimana merebut, memperluas dan mempertahankannya. Mereka yang ingin memperpanjang kekuasaannya tentu karena ingin mempertahankannya,” katanya, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Dia menyebut, pihak-pihak yang memperpanjang masa jabatan presiden itu selalu mengklaim untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya. Padahal, virus itu justru bisa menjadi bumerang di kemudian hari. Nafsu berkuasa seumur itu harusnya dibunuh. 

Baca Juga : Percepat Realisasi KUR Dong...

Dia pun berharap, presiden seumur hidup cukup di China dan Rusia. Di Indonesia, tidak boleh terjadi. Termasuk, pihak-pihak yang mau mendorong agar presiden bisa dipilih untuk tiga periode.

Menurutnya, memperpanjang masa jabatan presiden di Indonesia tidak ada urgensinya. Lagipula, Presiden Jokowi sudah beberapa kali menolak wacana penambahan masa jabatan presiden. Jokowi menegaskan tidak berniat dan tidak berminat. “Ini menunjukkan bahwa Presiden Jokowi merupakan tokoh yang konstitusional,” katanya.

Soal usulan presiden boleh dipilih tiga periode, seperti yang ramai dibicarakan pada Maret lalu, Emrus melihat, ada yang sedang mencari perhatian dan berharap mendapatkan keuntungan. “Sebab, yang saya lihat hanya para politisi yang mengusulkan tiga periode. Bukan para akademisi,” ucapnya. [QAR]