Dark/Light Mode

Mayat Bergelimpangan, Obat Menipis, Oksigen Habis, Ratusan Ribu Positif Corona

Ini Di India, Masih Nekat Mau Mudik?

Kamis, 22 April 2021 07:00 WIB
Jenazah pasien virus Covid-19 di India menunggu untuk dikremasi. (Foto: PTI)
Jenazah pasien virus Covid-19 di India menunggu untuk dikremasi. (Foto: PTI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ini bahan renungan bagi warga yang masih nekat mau mudik. Sebelum memutuskan beli tiket, tolong tengok dulu kondisi yang terjadi di India. Negara Bollywood itu, kini sedang dilanda tsunami Corona gelombang kedua. Ratusan ribu orang terpapar. Ribuan orang meninggal setiap harinya. Rumah sakit kewalahan. Oksigen yang digunakan untuk menyambung nyawa, habis. Mayat pun bergelimpangan hingga dibakar di jalan-jalan. Semoga, Corona di Indonesia yang saat ini sedang landai tak ikut ngamuk seperti di India. Amin.

Hingga Selasa (20/4), penyebaran Corona di India benar-benar memprihatinkan. Negara dengan penduduk terpadat kedua di dunia itu, mencatat 295.158 kasus positif baru dalam sehari. Sementara puncak gelombang pertama, September 2020 lalu, jumlah kasusnya berkisar antara 97 ribuan.

Angka kematian juga terus melonjak. Data yang masuk Selasa (20/4), ada 2.023 orang meninggal perhari akibat Corona. Sementara, 7 hari sebelumnya rata-rata 1.495 kasus. Kasus kematian terendah setelah puncak gelombang pertama, berada di angka 70-an kasus kematian dalam sehari.

Berita Terkait : Duka Pasien Covid Di India, Mulai Dari Sulit Masuk RS Hingga Beli Obat Di Black Market

Seperti apa kengerian badai tsunami Corona gelombang kedua di India? Salah satu gambarannya, terlihat di lokasi pembakaran mayat atau krematorium milik pemerintah Kota Pune. Asap hitam selalu mengepul dari lokasi tersebut. Meskipun masih siang hari, tapi sudah 22 orang dikremasi.

Mayat yang masuk ke krematorium di salah satu kota negara bagian, Maharashtra, India itu, sudah melampaui kapasitas. Sejak lonjakan kematian akibat Covid-19 terjadi, mereka harus membakar hingga 60 mayat dalam sehari. Itu pun belum selesai, meskipun pekerjanya sudah lembur.

Salah satu pekerja, namanya Varum Jangam mengaku kewalahan melihat antrean mayat di krematorium. Enam lemari pendingin mayat di tempatnya bekerja itu penuh. Sehingga mayat-mayat yang terus berdatangan bergelimpangan di luar bersama kerabatnya. Biasanya waktu tunggu hanya 15-20 menit. Kini, bisa mencapai hingga enam jam. Selain itu, harga kayu yang dipakai untuk membakar jenazah juga naik hingga tiga kali lipat. “Banyak sekali mayat yang dibawa ke sini,” keluh Varum, seperti dilansir BBC kemarin.

Berita Terkait : Kasus Virus Corona Turun Tapi Hoaks Masih Tinggi

Krematorium lain, di salah satu kota negara bagian Gujarat, dilaporkan logam tungku gasnya bahkan sampai meleleh. Karena harus terus beroperasi. Tak tertampung di krematorium, dari beberapa gambar yang beredar, mayat bahkan dibakar di trotoar, di luar salah satu pinggiran ibu kota.

Di rumah sakit, kondisinya tidak kalah memprihatinkan. Rumah sakit penuh, satu ranjang diisi hingga dua pasien, bahkan ada yang tergeletak di lantai. Selain itu, pasokan oksigen dan obat-obatan semakin terbatas hingga warga meninggal di ambulans menjadi pemandangan baru yang mengerikan di India.

Situasi gawat ini, terjadi setelah India berhasil membengkokkan kurva kasus Covid-19 jadi landai dalam rentang September 2020 hingga Februari 2021. Pemimpin negara itu, yakni Narendra Modi juga sempat banjir pujian karena dinilai sukses melakukan vaksinasi hingga satu juta penduduk dalam sehari. Bahkan 100 juta dosis vaksin bisa disalurkan dalam 85 hari. Tercepat di dunia.

Berita Terkait : Jumlah Kasus Corona India Tembus 100 Ribu Per Hari

Setelah itu, masyarakatnya merasa aman. Mereka mulai menghadiri lagi kerumunan seperti festival yang dihadiri oleh jutaan umat Hindu di tepi sungai Gangga, awal bulan ini, tanpa menghiraukan protokol kesehatan. Lalu, diketahui melonggarkan kembali penonton pertandingan kriket tanpa menggunakan masker hingga mobilisasi massa besar-besaran untuk menghadiri kampanye dalam pemilu yang digelar di beberapa negara bagian.
 Selanjutnya