Dewan Pers

Dark/Light Mode

Inggris Ngebet Kembalikan Keanekaragaman Hayati Global

Selasa, 25 Mei 2021 23:18 WIB
George Eustice (Foto: Ist)
George Eustice (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Inggris memimpin lahirnya manifesto Menteri Iklim dan Lingkungan G7 yang menempatkan aksi iklim, keanekaragaman hayati (Biodiversity) dan lingkungan di jantung pemulihan Covid-19 di seluruh dunia.

Manifesto ini merupakan wujud tekad Inggris yang ingin mengembalikan keanekaragaman hayati di seluruh dunia demi mencegah dampak buruk perubahan iklim.

“Untuk pertama kalinya G7 berkomitmen untuk menghentikan dan mengembalikan hilangnya keanekaragaman hayati pada 2030,” tegas Menteri Inggris untuk Urusan Lingkungan, Pangan dan Pedesaan George Eustice dalam siaran pers yang diterima Senin (25/5).

Eustice mengungkapkan manifesto ini merupakan langkah maju yang besar sebelum Inggris menjadi tuan rumah G7 di Cornwall bulan depan.

Ini merupakan tanda dedikasi G7 untuk mempercepat dalam mengatasi tantangan ganda perubahan iklim, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Berita Terkait : Menteri Bintang : Hentikan Kekerasan Pada Anak

“Kami telah melihat kemajuan luar biasa minggu ini, dan sangat gembira melihat negara-negara bekerja sama untuk meningkatkan ambisi kami dengan memainkan peran masing-masing,” ujar Eustice.

Eustice bersama Presiden Terpilih COP26 Alok Sharma mengumpulkan para menteri menjelang KTT para pemimpin G7 pada Juni, termasuk negara tamu India, Australia, Afrika Selatan dan Korea Selatan.

Semua anggota G7 menandatangani inisiatif global '30×30' untuk melestarikan atau melindungi setidaknya 30 persen daratan dunia, dan setidaknya 30 persen lautan dunia pada tahun 2030. Serta berkomitmen untuk ’30×30′ secara nasional.

Tahun ini sudah menjadi “G7 nol bersih” yang pertama, dengan semua negara berkomitmen untuk mencapai emisi nol karbon paling lambat pada tahun 2050, dengan target pengurangan emisi yang signifikan pada tahun lalu.

Inggris juga mendukung transisi ke energi hijau di luar G7. Kelompok tersebut juga setuju untuk menghentikan pendanaan pemerintah untuk proyek bahan bakar fosil secara global, menyusul komitmen utama yang dibuat Inggris pada Desember.

Berita Terkait : Vaksinasi Jadi Kunci Pemulihan Kesehatan Masyarakat dan Ekonomi Nasional

Sebagai langkah pertama, negara-negara G7 akan mengakhiri semua pembiayaan baru untuk tenaga batubara pada akhir 2021, diimbangi dengan peningkatan dukungan untuk alternatif energi bersih seperti matahari dan angin.

“Disepakati juga untuk mempercepat transisi dari kapasitas batu bara yang masih kuat ke sistem tenaga dekarbonisasi yang sangat besar pada 2030,” ujarnya.

Ditambahkannya, G7 telah sepakat untuk meningkatkan jumlah pendanaan untuk aksi iklim, termasuk untuk alam guna memenuhi target 100 miliar dolar AS per tahun untuk mendukung negara-negara berkembang.

Selain itu, G7 telah berkomitmen untuk memperjuangkan berbagai target keanekaragaman hayati global yang ambisius dan efektif. Termasuk kesepakatan kerangka keanekaragaman hayati global yang ambisius dan efektif pada CBD (Konvensi Keanekaragamanhayati) COP15 akhir tahun ini.

G7 berkomitmen untuk meningkatkan dukungan bagi rantai pasokan berkelanjutan yang memisahkan produksi pertanian dari deforestasi dan degradasi hutan, termasuk produksi yang berasal dari konversi lahan ilegal.

Berita Terkait : Krakatau International Port Tingkatkan Peran RI Dalam Perdagangan Global

Sementara itu, Presiden Terpilih COP26 Alok Sharma mengatakan bahwa ini adalah net zero pertama G7.

Menurutnya, di bawah kepresidenan Kerajaan Inggris Raya, G7 menunjukkan kepemimpinan yang hebat dalam menangani perubahan iklim dan memastikan mereka yang paling terkena dampaknya terlindungi dengan lebih baik.

"Saat kita pulih dari pandemi, kita fokus kembali pada pembangunan yang lebih hijau, menciptakan lapangan kerja dan kemakmuran, tanpa merusak planet ini,” papar Sharma. [DAY]