Dewan Pers

Dark/Light Mode

Ekonominya Terjun Bebas

Filipina Cabut Lockdown

Rabu, 8 September 2021 06:20 WIB
Pengemudi becak memasang slogan bertuliskan mengajak masyarakat untuk selalu memakai masker untuk
mencegah penyebaran virus Corona di Manila, Filipina. (Foto: AP/Aaron Favila).
Pengemudi becak memasang slogan bertuliskan mengajak masyarakat untuk selalu memakai masker untuk mencegah penyebaran virus Corona di Manila, Filipina. (Foto: AP/Aaron Favila).

RM.id  Rakyat Merdeka - Filipina akhirnya mencabut kebijakan karantina wilayah atau lockdown total, mulai hari ini, Rabu (8/9). Meskipun selama tiga hari terakhir, kasus harian secara nasional mencapai di atas 20 ribu. Alasannya, perekonomian yang terus melemah.

Meski begitu, pemerintah akan memberlakukan lockdown yang sifatnya lokal atau dalam skala kecil. Mereka menyebutnya granular lockdown.

Lockdown lokal akan diuji­cobakan di Metro Manila,’’ ujar Juru Bicara Kepresidenan Harry Roque kemarin (6/9), seperti dikutip Agence France-Presse.

Roque menjelaskan, target granular lockdown tidak bo­leh keluar rumah sama sekali. Semua keperluan mereka akan dipenuhi. Tapi tidak dijelaskan lebih detail lagi terkait bagaimana mendeteksi mereka yang masuk dalam target granular lockdown itu.

Berita Terkait : PM Jepang Pamitan

Manila memang merupakan pusat perekonomian di Filipina. Kota itu menyumbang seper­tiga dari total perekonomian di negara yang dipimpin Presiden Rodrigo Duterte tersebut. Total 13 juta penduduk tinggal di ibu kota negara itu.

Pencabutan lockdown di Ma­nila dan sekitarnya bakal mema­cu pariwisata lokal. Restoran dan salon kecantikan akan diizinkan beroperasi secara terbatas. Ter­masuk kebaktian di gereja. Manila awalnya menerapkan lockdown mulai 6 Agustus lalu.

Ketua Otoritas Pembangunan Metro Manila, Benhur Abalos menekankan fleksibilitas bahwa sistem penguncian granular mampu membiayai ekonomi Filipina yang rusak.

“Ini lebih fleksibel. Di mana ada penularan, akan ada lock­down. Kami butuh kebijakan fleksibel. Sementara Anda sakit, yang lain dapat bekerja,” un­gkapnya, seperti dikutip ABS News-CBN.

Berita Terkait : Samin Tan Bebas Jadi Amunisi Eni Ajukan PK

Sebelumnya, Duterte menyatakan, Filipina tidak mampu lagi terus menerapkan lockdown. Perekonomian Filipina terjun bebas karena pandemi. Jutaan orang kehilangan pekerjaan. Karena itu, mereka rela mengambil risiko, meski saat ini sistem kesehatan di Filipina di ambang keterpurukan.

Vaksinasi Covid-19 juga tidak bisa jadi jalan keluar. Itu karena baru 19 persen penduduk yang sudah divaksin lengkap.

Mengutip News Strait Times, Selasa (7/9), Kementerian Kesehatan mengatakan total kasus Covid yang dikonfirmasi mencapai lebih dari 2,1 juta. Sementara total kematian mencapai 34.337. Data resmi pada Rabu menunjukkan, negara itu mencatat 14.216 penularan baru, dan kematian 103 orang.

Duterte kerap bersitegang dengan menteri kesehatannya, terkait penanganan vaksin. Jum­lah vaksin di negara tersebut juga tidak memadai. Filipina masih bergantung dengan bantuan vak­sin seperti Amerika dan China.

Berita Terkait : Jokowi Geleng Kepala

Sebagian penduduk juga ma­sih menolak divaksin. Duterte sampai mengancam, mereka yang menolak divaksin tidak boleh keluar rumah.

Petugas kepolisian setempat juga boleh menangkap penduduk yang tak mau divaksin. Mereka akan dipenjara. Tidak diketahui dengan pasti apakah kebijakan itu benar-benar diterapkan atau sekadar ancaman. [DAY]