Dewan Pers

Dark/Light Mode

Renungan Ramadhan (2)

Ajal Masyarakat

Rabu, 6 April 2022 06:05 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam Al-Qur’an, bukan hanya manusia yang punya ajal, tetapi juga masyarakat, rezim, atau orde. Al- Qur’an menegaskan: Tiap-tiap masyarakat atau umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat dimundurkan atau dimajukan sesaat pun (Q.S. al- A’raf/7:34). Panjang atau pendeknya sebuah masyarakat atau rezim ditentukan seberapa jauh mereka mengindahkan hukum-hukum sosial kemasyarakatan yang hidup di dalamnya.

Menurut Ibnu Khaldun, panjang atau pendeknya umur suatu masyarakat ditentukan oleh generasinya. Menurut Ibnu Khaldun, ada empat generasi yang menentukan di dalamnya, yaitu generasi perintis, generasi pembangun, generasi penikmat, dan generasi penghancur. Ada masyarakat memiliki generasi pembangun lebih panjang dari pada generasi penikmatnya. Ada juga sebaliknya.

Berita Terkait : Keutamaan Bulan Ramadan (2)

Generasi perintis seringkali yang paling banyak berkorban, bukan hanya harta dan keringat, tetapi nyawa ikut melayang. Generasi pembangun juga cukup berkeringat dan bersabar untuk meletakkan sendi-sendi masyarakat ideal. Namun, yang sering lengah ialah generasi penikmat yang biasanya disusul dengan generasi penghancur.

Setelah hancur, maka akan muncul lagi suatu generasi baru yang akan merintis. Terkadang, generasi ini harus memulai dari nol atau merestorasi bangunan yang sudah hancur. Lalu, akan disusul dengan generasi pembangun berikutnya. Setelah itu, akan muncul lagi generasi penikmat. Kalau generasi ini berpegang teguh kepada sendi-sendi utama masyarakat sebagaimana dirumskan oleh generasi sebelumnya, maka umur masyaraakat itu akan lebih panjang. Akan tetapi, jika sendi-sendi kemasyarakatan yang telah ditetapkan oleh generasi sebelumnya tidak diindahkan, maka itu berpotensi untuk berakhirnya umur masyarakat atau rezim itu.

Berita Terkait : Keutamaan Bulan Ramadan (1)

Alangkah indahnya sebuah masyarakat yang lahir dan berakhir dengan baik. Ilustrasinya, bagaikan bayi yang lahir sehat, tumbuh besar dan normal serta berhasil di dalam melanjutkan amanah para pendahulunya, dan berakhir dengan husnul khatimah. (*)