Dark/Light Mode

Rekonsolidasi Strategi Kebudayaan Nasional (45)

Pengalaman Philipina

Rabu, 1 Februari 2023 06:10 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Agama Islam masuk di Philipina diperkirakan antara abad ke 12 dan 13, berasal dari Teluk Parsia dan Pantai Malabar di India Selatan. Pada 1390, Putera Minangkabau Raja Baguinda dan para pengikutnya mengajarkan Islam di beberapa kepulauan. Karimal Makdum kemudian dijadikan nama dari salahsatu mesjid dan sering dikatakan sebagai mesjid pertama di Philipina.

Populasi muslim di seluruh Philipina sekitar 2.348.000 atau seki tar 5.3% dari total penduduk negara itu berjumlah 44.300.000 jiwa. Agama mayoritas dianut di negeri ini ialah Katolik Roma, kemudian Protestan, Budha, Hindu, Animisme, dan kelompok tidak beragama.

Baca juga : Pengalaman Thailand

Pada 1390 di Putera Minangkabau Raja Baguinda dan para pengikutnya mengajarkan Islam di pulaupulau Philipina dan sekaligus membentik komunitas yang dengan susah payah membangun pulaupulau yang diduduki.

Perkampungan seterusnya oleh mubaligh Arab bepergian ke Malaysia dan Indonesia membantu menguatkan Islam di Philipina dan penyelesaian masing-masing diperintah oleh seorang Datu, Raja dan Sultan. Wilayah-wilayah Islam didirikan di Philipina termasuk Kesultanan Maguindanao, Kesultanan Sulu dan wilayawilayah lain di Filipina Selatan. Sayang sekali wilayah-wilayah ini sering diisukan untuk memberontak menuntut kemerdekaan.

Baca juga : Negara & Aliran Sesat

Proses islamisasi di Philipina pada masa awal menurut para ahli melalui tiga hal, yaitu perdagangan, perkawinan dan politik. Diterimanya Islam oleh orangorang Mindanao, Sulu, Manilad, dan sepanjang pesisir pantai kepulauan Philipina tidak terlepas dari ajaran Islam yang dibawa oleh para pedagang tersebut dapat mengakomodasi tradisi lokal.

Dalam lintasan sejarah Philipina, khususnya perjuangan bangsa Moro dapat dibagi menjadi tiga fase: Pertama, Moro berjuang melawan penguasa Spanyol selama lebih dari 375 tahun (1521 - 1898). Kedua, Moro berusaha bebas dari kolonialisme Amerika selama 47 tahun (1898 -1946). Ketiga, Moro melawan pemerintah Philipina (1970 -sekarang).

Baca juga : Pengalaman Jepang (2)

Kekecewaan Bangsa Moro terhadap pemerintah Philipina antara lain UndangUndang Nasional dinilai terlalu “Barat” dan pengaruh Katolik terlalu kuat di dalamnya.

Di samping itu, sistem sekolah yang menetapkan kurikulum nasional dan terlalu sedikit memberi ruang untuk kearifan lokal warga Moro, dan adanya trauma perpindahan penduduk yang dilakukan oleh pemerintah Philipina ke wilayah mereka di Mindanao, akibatnya mengubah mereka dari mayoritas menjadi minoritas di dalam berbagai aspek di wilayah Moro. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.