Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Membaca Ulang Al-Qur`an (22)
Memahami Makna dan Hakekat Ta`awwudz (1)
Tausiah Politik
Sebelumnya
Untuk mengimplementasikan ta'awwudz dalam kehidupan nyata ada lima hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, pertama, hakikat mohon perlindungan (al-isti’adzah), kedua, meminta perlindungan (al-musta’idz), ketiga Sang Pemberi Perlindungan (al-Musta’adz bihi), keempat, makhluk yang hendak dijauhi (al-musta’adz minhu), dan tujuan yang dimohonkan perlindungan (ma yusta’adzu lahu).
Baca juga : Antara al-Qur’an dan al-Furqan
Dikabulkannya permohonan perlindungan tergantung terpenuhinya mekanisme kelima komponen tersebut. Untuk itu, ada tiga hal yang harus hadir di dalam diri seorang pemohon, yaitu ilmu, suasana batin, dan perbuatan nyata. Seseorang yang memohon perlindungan mengetahui dan sadar bahwa dirinya tidak mampu menolak kemalangan atau mendatangkan kesenangan, dan hanya Allah lah yang Maha Berkuasa mewujudkan dua hal tersebut. Jika seseorang memiliki kesadaran akan hal tersebut, maka akan terbentuk kondisi batin yang positif dalam dirinya, yaitu sikap rendah hati dan menyadari kelemahan dirinya. Dengan didasari kesadaran batin semacam itu, maka dalam prilakunya dia akan selalu tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Begitu juga dengan hati dan lisannya. Hatinya akan selalu mengarahkannya kembali kepada Allah dan senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya dari segala cobaan, sembari berharap karunia dan kebaikan-kebaikan dari-Nya.
Baca juga : Bagaimana Merasakan Kehadiran Wahyu? (2)
Kaitannya dengan shalat dan ta'awwudz sangat erat, karena semakin kuat upaya seseorang untuk naik mendekati Tuhannya, semakin besar pengerahan kekuatan iblis untuk menggoda yang bersangkutan. Itulah sebabnya mengapa shalat yang waktu pelaksanaannya sangat singkat tetapi teramat sulit untuk khusuk kepada Allah Swt. Bahkan justru di dalam shalat seringkali bermunculan ide-ide cerdas, sehingga jumlah rakaat pun kadang terlupa, terlebih Tuhan yang seharusnya menjadi fokus perhatian kita. Di sinilah pentingnya ta'awwudz itu.
Baca juga : Bagaimana Merasakan Kehadiran Wahyu? (1)
Meskipun tidak dibaca keras (jahr), kalangan arifin tidak pernah meninggalkan membaca ta'awwudz sebelum mebaca surah al-Fatihah, karena mereka merasa lebih dekat, mesra, dan dalam genggaman Tuhannya. Dengan ta'awwuz, shalat mereka bisa lebih khusyuk karena sudah mengikrarkan penyerahan diri dan perlindungan kepada Tuhannya sebelum lebih lanjut melaksanakan rangkaian shalat. Perlu diingat bahwa shalat adalah pendakian (mi'raj) seorang mukmin kepada Tuhannya. Iblis dan pasukannya paling membenci orang yang akan mikraj, karena itu mereka akan mengusahakan berbagai cara agar pendakiannya gagal mencapai orbit yang dituju dengan melakukan berbagai serangan; baik menggunakan kekuatan mereka sendiri atau menggunakan keuatan orang lain, sebagaimana diisyaratkan dalam Q.S. al-nas. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.