Dark/Light Mode

Cawe-cawe Tahta Hastina

Senin, 5 Juni 2023 05:02 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Cawe-cawe adalah bentuk lain kepedulian seseorang dalam tataran keluarga dengan maksud untuk meringankan masalah. Biasanya cawe-cawe dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Maka ada pepatah mengatakan anak polah bopo kepradah, anak susah orang tua ikut repot cawe-cawe mengatasi masalah anak. Kearifan budaya Jawa kaya akan senepo atau perlambang. Cawe-cawe bisa juga dimaknai sebagai sanepo partisipasi seseorang terhadap permasalahan.

“Apa yang salah dengan cawe-cawe, Mo,” celetuk Petruk, ikut nimbrung. Romo Semar kurang semangat untuk mengomentari perilaku cawe-cawe. Romo Semar sedang galau dengan maraknya kampanye hitam jelang pemilu. Padahal ritual lima tahunan merupakan pesta demokrasi yang harus disambut dengan gembira dan sukacita.

Baca juga : Cawe-cawe, Turun Tangan, dan Campur Tangan

Kopi pahit dan pisang rebus selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Dewi Kanestren tahu betul makanan kelangenan suaminya. Pisang rebus selain low kolesterol, murah dan menyehatkan. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata, ketika Prabu Drupada dan Dewi Kunti ikut cawe-cawe urusan kembalinya Hastina kepada Pandawa.

Kocap kacarito, Satria Pandawa telah selesai menjalani hukuman hidup di tengah hutan selama dua belas tahun. Ditambah menyamar sebagai sudra selama setahun. Hukuman ini merupakan konsekuensi dari kekalahan Pandawa main dadu. Permainan dadu yang direkayasa oleh Patih Sengkuni mengakibatkan Pandawa mengalami kekalahan. Termasuk Kerajaan Amarta dan Dewi Drupadi sebagai taruhan dalam permainan tersebut.

Baca juga : Jangan Lukai Hati Rakyat

Sesuai perjanjian setelah Pandawa menjalani hukuman, Kurawa dalam hal ini Prabu Duryudana harus mengembalikan separuh kerajaan Hastina dan Amarta kepada Pandawa. Namun Duryudana ingkar janji untuk mengembalikan separo tahta kerajaan kepada Pandawa. Ibarat orang “ngemut legine gula”, Duryudana enggan untuk melepas tahtanya. Kembalinya Kerajaan Hastina harus dengan perang yakni Perang Baratayuda.

Naluri Dewi Kunti sebagai seorang ibu dari satria Pandawa tergugah untuk ikut cawe-cawe masalah yang sedang dihadapi anak-anaknya. Begitu pula Prabu Drupada yang tidak lain adalah orang tua Drupadi terusik dengan perilaku Duryudana terhadap anak mantunya. Niat Prabu Drupada hanya mengingatkan Duryudana supaya menepati janji-janjinya kepada Pandawa.

Baca juga : Bukan Negeri Transaksional

Dewi Kunti dan Drupada bersama-sama menghadap Prabu Duryudana di pasewakan agung Kerajaan Hastina untuk menagih janji. Rupanya kehadiran dua duta Pandawa tersebut membuat Prabu Duryudana murka. Duryudana marah besar kepada Drupada lancang ikut campur urusan keluarga Barata. Menurutnya, Drupada orang luar yang tidak sepantasnya ikut cawe-cawe urusan kerajaan Hastina. Drupada diusir dari pasewakan agung dan Dewi Kunti jatuh pingsan di pangkuan Adipati Karna.

“Cawe-cawe Drupada dan Kunti tidak membuahkan hasil, Mo,” sela Petruk, membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Yang namanya niat baik belum tentu dapat diterima semua orang,” jawab Romo Semar, pendek. “Sebelum cawe-cawe, harus bisa melihat keadaan. Ibaratnya bisa menerapkan perilaku “empan papan” tahu diri tidak grusa-grusu,” papar Semar sambil ngeloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.